Pastikan Anda

Jumat, 07 Desember 2012

Hubungan Supervisi Kepala Sekolah dan Motivasi Kerja Dengan Kepuasan Kerja Guru di SMP Negeri 23 Medan (Proposal Penelitian)


KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis persembahkan kehadirat Allah SWT yang senantiasa menganugerahkan nikmat, taufik dan hidayahnya sehingga Proposal Penelitian yang berjudul Hubungan Supervis Kepala Sekolah dan Motivasi Kerja Dengan Kepuasan Kerja Guru di SMP Negeri 23 Medan ini dapat diselesaikan tepat waktu, tepat guna, dan tepat sasaranlah kiranya.
Sembari dari itu, salawat bertangkaikan salam marilah kita hadiahkan ke-haribaan junjungan kita, Nabi Allah, puteranya Abdullah, buah hatinya Aminah, siapa lagi kalau bukan Baginda muhammad Rasulullah SAW.
Tujuan Pembuatan Proposal Penelitian ini adalah untuk memenuhi bagian dari tugas Smester Genap pada Mata Kuliah “Supervisi Pendidikan II”. Penulisan proposal penelitian ini banyak menerima kontribusi pemikiran dari pada pakar- pakar atau ahli dalam bidang yang sesuai dengan judul proposal penelitian ini, sehingga proposal penelitian ini dapat terselesaikan, untuk itu penulis ucapkan terima kasih yang sebesar- besarnya.
Ucapan terima kasih saya kepada ibu Hj. Nilam Cahaya Hasibuan yang sudah sudi kiranya menjadi narasumber guna melengkapi isi proposal penelitian saya ini, selain itu juga, ucapan terima kasih saya kepada ibu Rosnauli Ritonga selaku pengawas dan seluruh staf pendidik dan kependidikan SMP. NEGERI 23 MEDAN yang tak bisa saya tuliskan nama para beliau satu persatu di laporan proposal penelitian saya ini.
Mohon maaf saya yang sebesar- besarnya pada Bapak Dosen Pembimbing “Candiki Repantu” jikalau di sana sini masih dijumpai kesalahan penulisan, tata bahasa, maupun kesalahan lainnya, karena hal tersebut terjadi tanpa unsur kesengajaan serta karena saya juga masih dalam tahap belajar.
Akhirnya, kepada Allah saya mohon taufik dan hidayahNya, semoga usaha ini senantiasa dalam keridhaanNya, dan semoga proposal penelitian ini dapat menambah Khazanah Keilmuan saya selaku penulis. Amiin.


Medan, 07 Juli 2011
Penulis

BAB I
PENDAHULUAN
A.      LATAR BELAKANG MASALAH
Tugas guru sebagai profesi menurut Undang-Undang No. 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional meliputi mendidik, mengajar dan melatih. Mendidik berarti meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup, mengajar berarti meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan, melatih berarti mengembangkan keterampilan-keterampilan pada siswa. Dalam melaksankan tugsanya guru bekerjasama dengan orang tua dan masyarakat.
Untuk dapat melaksanakan tugas dan tanggung jawab di atas, seorang guru dituntut memiliki beberapa kemampuan dan keterampilan tertentu. Kemampuan dan keterampilan tersebut sebagai bagian dari kompetensi profesionalisme guru. Kompetensi merupakan suatu kemampuan yang mutlak dimiliki oleh guru agar tugasnya sebagai pendidik dapat terlaksana dengan baik.
Tugas guru erat kaitannya dengan peningkatan sumber daya manusia melalui sektor pendidikan, oleh karena itu perlu upaya-upaya untuk meningkatkan mutu guru untuk menjadi tenaga profesional. Agar peningkatan mutu pendidikan dapat berhasil. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Tilaar : “peningkatan kualitas pendidikan tergantung banyak hal, terutama mutu gurunya”[1]
Untuk menjadikan guru sebagai tenaga profesional maka perlu diadakan pembinaan secara terus menerus dan berkesinambungan, dan menjadikan guru sebagai tenaga kerja perlu diperhatikan, dihargai dan diakui keprofesionalannya. Dengan demikian pekerjaan guru bukan semata-mata pekerjaan pengabdian namun guru adalah pekerja profesional seperti pekerjaan yang lain misalnya akuntan, pengacara, pengusaha, dosen dan dokter dan seabaginya. Memandang guru sebagai tenaga kerja profesional maka usaha-usaha untuk membuat mereka menjadi profesional tidak semata-mata hanya meningkatkan kompetensinya baik melalui pemberian penataran, pelatihan maupun memperoleh kesempatan untuk belajar lagi namun perlu juga memperhatikan guru dari segi yang lain seperti peningkatan disiplin, pemberian motivasi, pemberian bimbingan melalui supervisi , pemberian insentif, gaji yang layak dengan keprofesionalnya sehingga memungkinkan guru menjadi puas dalam bekerja sebagai pendidik.
Kepuasan kerja bagi guru sebagai pendidik diperlukan untuk meningkatkan kinerjanya. Kepuasan kerja berkenaan dengan kesesuaian antara harapan seseorang dengan imbalan yang disediakan. Kepuasan kerja Guru berdampak pada prestasi kerja, disiplin, kualitas kerjanya.
Pada guru yang puas terhadap pekerjaanya kemungkinan akan membuat berdampak positif terhadap peningkatan mutu pendidikan. Demikian sebaliknya, jika kepuasan kerja guru rendah maka akan berdampak negatif terhadap perkembangan mutu pendidikan. Guru yang membolos, mengajar tidak terencana, malas, mogok kerja, sering mengeluh merupakan tanda adanya kepuasan guru rendah. Guru menjadi balas dendam atas ketidak nyamanan yang diberikan sekolah/kantor dengan keinginan/harapannya.
Sebagaimana terjadinya kasus demonstrasi guru sekitar bulan Mei 2001 agar diturunkan jabatan seorang kepala sekolah di SMK Negeri 6 Samarinda yang berbuntut kepala sekolah terpaksa mengundurkan diri, kasus demonstrasi guru di SMK Negeri 3 Samarinda pada bulan Juli 1999 yang berbuntut kepala sekolah terpaksa mutasi ke SMK Negeri Tenggarong dan ternyata di sana juga di demo oleh guru sehingga terjadi mutasi lagi ke SMK Bulungan, adalah contoh ketidak puasan guru terhadap kinerja kepala sekolah dan contoh bagaimana kebutuhan guru tidak terpenuhi sesuai harapannya oleh kepala sekolah sebagai pimpinan organisasi.
B.       IDENTIFIKASI MASALAH
Berdasarkan latar belakang masalah maka dapat diidentifikasi masalah yang akan di teliti yaitu :
1.        Apakah terdapat hubungan antara pengetahuan tentang evaluasi pendidikan dengan kepuasan kerja ?
2.        Apakah terdapat hubungan antara kompetensi guru dengan kepuasan kerja ?
3.        Apakah terdapat hubungan antara supervisi dengan kepuasan kerja ?
4.        Apakah terdapat hubungan antara motivasi kerja guru dengan kepuasan kerja?
5.        Apakah terdapat hubungan antara gaya kepemimpinan kepala sekolah dengan kepuasan kerja ?
6.        Apakah terdapat hubungan antara disiplin kerja guru dengan kepuasan kerja ?
7.        Apakah terdapat hubungan antara kinerja dengan kualitas mengajar guru ?
C.    PEMBATASAN MASALAH
Penulis membatasi masalah yang diteliti pada kepuasan kerja sebagai variabel dependent (variabel terikat), supervisi kepala sekolah dan motivasi kerja sebagai variabel independen ( variabel bebas) pada guru di SMP Negeri 23 Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara.

D.      PERUMUSAN MASALAH
1.        Apakah terdapat hubungan antara supervisi kepala sekolah dengan kepuasan kerja guru di SMP Negeri 23 Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara?.
2.        Apakah terdapat hubungan antara motivasi kerja guru dengan kepuasan kerja guru di SMP Negeri 23 Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara?.
3.        Apakah terdapat hubungan secara bersama-sama antara supervisi kepala sekolah dan motivasi kerja guru dengan kepuasan kerja guru di SMP Negeri 23 Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara?.
E.       KEGUNAAN PENELITIAN
Hasil penelitian diharapkan dapat berguna secara akademis, praktis, dan teoretis sebagai berikut : (1) Kegunaan Akademis. Penelitian ini diharapkan dapat menemukan unsur-unsur yang berhubungan dengan kepuasan kerja guru sehingga nantinya dapat digunakan sebagai sarana untuk meningkatkan kualitas guru dalam tugasnya sebagai pendidik. Hasil penelitian ini dapat dijadikan masukan bagi pengembangan sumber daya manusia oleh para praktisi pendidikan.(2) Kegunaan Praktis. Hasil penelitian akan berguna bagi kepala sekolah, khususny Kepala Sekolah SMP Negeri 23 Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan terutama kualitas guru melalui pemberian supervisi oleh kepala sekolah dan motivasi kerja. Kegunaan lain adalah bagi guru yang bersangkutan dalam upaya meningkatkan kualitas pengajaran sebagai tenaga pengajar yang profesional. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan kepada dunia pendidikan pada umumnya dalam rangka meningkatkan profesionalitas guru melalui peningakatn supervisi. Kepala Sekolah dan Motivasi Kerja. Dalam hal ini faktor kepuasan kerja guru akan memacu guru untuk semangat bekerja, memacu peningkatan kinerja, memacu kualitas kerja dan produktivitas kerja guru. Jika hasil penelitian ini terbukti maka dapat digunakan sebagai rujukan untuk memperbaiki kinerja guru melalui kepuasan kerja guru yang dipengaruhi oleh faktor Supervisi Kepala Sekolah dan Motivasi Kerja. Diharapkan di sekolah-sekolah kepala sekolah dapat memainkan perannya sebagasi supervisor dan motivator yang baik kepada bawahannya. (4) Kegunaan Teoretis Secara teoretis hasil penelitian ini sebagai bahan rujukan untuk mengetahui seberapa besar hubungan antara supervisi kepala sekolah, dan motivasi kerja dengan kepuasan kerja guru sehingga dapat mengetahui pemanfaatanya di bidang pendidikan.



BAB II
PENYUSUNAN KERANGKA TEORETIS DAN PENGAJUAN HIPOTESIS
A.      DESKRIPSI TEORITIS
1.        Kepuasan Kerja
Guru menjadi pelaku yang menunjang tercapainya tujuan pendidikan, mempunyai pikiran, perasaan dan keinginan yang dapat mempengaruhi sikapsikap terhadap pekerjaanya. Sikap ini akan menentukan kinerja guru, dedikasi, dan kecintaan terhadap pekerjaan yang dibebankan di pundaknya. Sikap yang positif harus dibina, sedang yang negatif harus dihilangkan sedini mungkin. Sikap guru itu seperti kepuasan kerja, stress dan frustasi yang ditimbulkan adanya pekerjaan, pearalatan, lingkungan, iklim organisasi dan sebagainya.
Kepuasan Kerja adalah seperangkat perasaan pegawai tentang menyenangkan atau tidaknya pekerjaan mereka.[2] Ada perbedaan yang penting antara perasaan ini dengan unsur lainnya dari sikap pegawai. Kepuasan kerja adalah perasaan senang atau tidak senang yang relatif yang berbeda dari pemikiran obyektif dan keinginan perilaku. Malayu SP. Hasibuan mendefinisikan kepuasan kerja adalah sikap emosional yang menyenangkan dan mencintai pekerjaannya. Sikap ini dicerminkan oleh moral kerja, kedisiplinan, dan prestasi kerja. Kepuasan kerja adalah perasaan senang atau tidak senang yang relatif yang berbeda dari pemikiran obyektif dan keinginan perilaku. Kepuasan Kerja adalah sikap umum pekerja yang menilai perbedaan antara jumlah imbalan yang diterima dengan yang diyakininya seharusnya diterima.[3] Sedang menurut Schermerhorn Hunt dan Osborn bahwa kepuasan kerja adalah tingkat dimana seseorang merasa positif atau negatif tentang berbagai segi dari pekerjaan, tempat kerja dan hubungannya dengan teman kerja.[4] Kepuasan adalah keadaan emosi yang positif dari mengevaluasi pengalaman kerja seseorang. Ketidakpuasan kerja akan muncul saat harapanharapan ini tidak dipenuhi. Sebagai contoh, jika seorang tenaga kerja mengharapkan kondisi kerja yang aman dan bersih, maka tenaga kerja mungkin bisa menjadi tidak puas jika tempat kerja tidak aman dan kotor.[5]
Berdasarkan atas beberapa pendapat ahli tersebut maka dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan kepuasan kerja adalah refleksi perasaan seseorang yang menyenangkan mengenai pekerjaan berdasarkan atas harapan dengan imbalan yang diberikan oleh organisasi, Kepuasan kerja guru ditunjukkan oleh sikapnya dalam bekerja/mengajar. Jika guru puas akan keadaan yang mempengaruhi dia maka dia akan bekerja dengan baik/mengajar dengan baik. Tetapi jika guru kurang puas maka dia akan mengajar sesuai kehendaknya. Arni Muhammad menyebutkan ada dua hal yang mungkin menyebabkan orang tidak puas dengan pekerjaannya. Hal pertama, apabila orang tersebut tidak mendapatkan informasi yang dibutuhkan untuk melakukan pekerjannya. Yang kedua, apabila hubungan sesama teman sekerja kurang baik. Atau dengan kata lain ketidakpuasan kerja ini berhubungan dengan masalah komunikasi.[6] Sedang Malayu SP. Hasibuan menyebutkan bahwa kepuasan kerja karyawan dipengaruhi faktor-faktor berikut :1). balas jasa yang adil dan layak; 2) penempatan yang tepat sesuai dengan keahlian; 3) Berat-ringannya pekerjaan; 4) suasana dan lingkungan pekerjaan; 5) peralatan yang menunjang pelaksanaan pekerjaan; 6) sikap pimpinan dalam kepemimpinannya; 7) sifat pekerjaan monoton atau tidak.[7]
Selanjutnya Hasibuan menjelaskan bahwa tolok ukur tingkat kepuasan yang mutlak tidak ada karena setiap individu karyawan berbeda standar kepuasannya. Indikator kepuasan kerja hanya diukur dengan kedisiplinan, moral kerja, dan turnover besar maka secara relatif kepuasan kerja karyawan baik. Sebaliknya jika kedisiplinan. moral kerja, dan turnover kecil maka kepuasan kerja karyawan diperusahaan bertambah. Kepuasan kerja merupakan kunci pendorong moral, kedisiplinan dan prestasi kerja guru dalam mendukung terwujudnya tujuan pendidikan. Dengan demikian dapat pula dikatakan bahwa kepuasan dan ketidak puasan kerja guru adalah perasaan guru tentang menyenangkan atau tidak mengenai pekerjaan berdasarkan atas harapan guru dengan imbalan yang diberikan oleh sekolah/organisasi. Jika pekerjaan mengajar guru mendapat imbalan yang menurutnya pantas ia akan puas, sebaliknya jika hasil kerjanya memperoleh imbalan yang tidak pantas menurutnya maka guru menjadi tidak puas.
2.        Supervisi Kepala Sekolah
Agar peranan guru dalam kaitan dengan tugas mendidik dapat berhasil dengan baik, maka guru perlu diadakan pembinaan dengan cara disupervisi oleh kepala sekolah. Suharsimi Arikunto mengemukakan tentang istilah supervisi. Istilah Supervisi lebih mendekatkan pada sifat manusiawi dalam pelaksanaan supervisi tidak mencari kesalahan atau kekurangan tetapi melakukan pembinaan, agar pekerjaan yang disupervisi diketahui kekurangannya, diberitahukan cara meningkatkan, dan membicarakan bersama sesuatu kekurangan[8]. Kemudian Suharsimi Arikunto menyatakan tentang pengertian Supervisi Pengajaran dengan menyebut sebagai “Supervisi Klinis” yaitu suatu bentuk supervisi yang difokuskan pada peningkatan kualitas mengajar dengan melalui sarana siklus yang simpatik untuk langkah-langkah intensif dan cermat tentang penampilan mengajar yang nyata serta bertujuan untuk mengadakan perubahan dengan cara yang rasional[9].
Glickman dalam Ibrahim Bafadal mendefinisikan Supervisi Pengajaran adalah serangkaian kegiatan membantu guru mengembangkan kemampuannya mengelola proses belajar mengajar demi pencapaian tujuan pengajaran. Daresh mengemukakan Supervisi Pengajaran adalah upaya membantu guru-guru mengembangkan kemampuannya mencapai tujuan pengajaran15. Menurut pendapat Harris dalam Piet A. Sahertian Supervisi Pengajaran adalah apa yang dilakukan oleh petugas sekolah terhadap stafnya untuk memelihara (maintain) atau mengubah pelaksanaan kegiatan di sekolah yang langsung berpengaruh terhadap proses mengajar guru dalam usaha meningkatkan hasil belajar siswa16. Selanjutnya Crosby sebagaimana dikutip oleh Burhanuddin mengemukkan supervisi adalah pembinaan yang diberikan kepada seluruh staf sekolah agar mereka dapat meningkatkan kemampuan untuk mengembangkan situasi belajar mengajar yang lebih baik[10].
Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan supervisi pengajaran adalah upaya seorang kepala sekolah dalam pembinaan guru agar guru dapat meningkatkan kualitas mengajarnya dengan melalui langkah-langka perencanaan, penampilan mengajar yang nyata serta mengadakan perubahan dengan cara yang rasional dalam usaha meningkatkan hasil belajar siswa. Fungsi Kepala Sekolah antara lain memberikan bimbingan dan penyuluhan terhadap staf guru maupun staf tatausaha agar setiap staf dapat melaksanakan tugasnya dengan baik, dalam arti agar tugas itu dapat berhasil secara efektif. Dengan bimbingan terhadap satf guru, maknanya Kepala Sekolah berusaha agar tugas guru sebagai pendidikan dan pengajar dapat tercapai hasil yang efektif dan efisien.
B.       KERANGKA BERPIKIR
Dengan berdasarkan kajian teori dari ketiga variabel penelitian supervisi Kepala Sekolah, motivasi dan kepuasan kerja guru maka kerangka pemikiran yang digunakan dalam penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut :
1.        Hubungan Antara Supervisi Kepala Sekolah (X1) dengan Kepuasan Kerja (Y)
Supervisi Kepala Sekolah merupakan sarana bagi Kepala Sekolah untuk melakukan pembinaan/pembimbingan kepada guru mengenai hasil kegiatan guru dalam proses belajar mengajar. Oleh karena itu diharapkan supervisi Kepala Sekolah akan membawa dampak positif bagi perkembangan kegiatan guru sehingga tujuan pendidikan dapat tercapai dengan baik. Dalam dunia pendidikan guru-guru merupakan figur yang ditaati oleh seluruh peserta didik, yang menjadi siswa di sekolah bersangkutan. Guru dalam menjalankan tugasnya memiliki keaneka ragaman latar belakang pendidikan, kemampuan, insiatif dan motivasi mengajar di sekolah. Dengan keanekaragaman tersebut masing-masing guru memiliki tujuan dan peran serta yang berbeda di dalam menjalankan tugasnya. Dengan kemampuan tingkat profesionalisme yang dimiliki guru akan menuntut imbalan kerja secara ekonomis yang berbeda pula.
Jika kepala sekolah dapat menerapkan tipe supervisi yang dapat meningkatkan kualitas mengajar, dengan diimbangi penghargaan yang memadai maka guruguru dalam menjalankan tugasnya akan mendapat kepuasan kerja sebagai imbalan yang di peroleh dari sekolah bersangkutan. Supervisi Kepala Sekolah dalam penelitian ini adalah tanggapan guru mengenai hasil supervisi berupa bimbingan dalam tugas guru sebagai pengajar yang dilakukan kepala sekolah dalam rangka meningkatkan profesionalitas guru. Supervisi yang dilaksanakan oleh kepala sekolah berkenaan dengan pemecahan masalah dan bukan mencari masalah secara bersama antara guru dengan kepala sekolah. Kepala sekolah yang mau memperhatikan dan membantu guru dalam memecahkan masalah-masalah pengajaran, masalah pribadi dan masalah profesi akan dapat memberi kepuasan guru dalam bekerja. Guru akan merasa dihargai dan diperhatikan sehingga guru akan bersikap baik terhadap organisasi dan kepala sekolah. Guru punya persepsi yang positif terhadap pelaksanaan supervisi.
Dari uraian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa, diduga terdapat hubungan yang posistif antara supervisi kepala sekolah dengan kepuasan kerja guru. Dengan perkataan lain, makin baik supervisi kepala sekolah maka makin tinggi kepuasan kerja guru.
2.        Hubungan Antara Motivasi Kerja (X2) dengan Kepuasan Kerja Guru (Y)
Motivasi merupakan suatu bentuk reaksi terhadap kebutuhan manusia yang menimbulkan eksistensi dalam diri manusia yaitu keinginan terhadp sesuatu yang belum terpenuhi dalam hidupnya sehingga terdorong untuk melakukan tindakan guna memenuhi dan memuaskan keinginannya. Dengan tingkat penghargaan yang diberikan oleh sekolah kepada guru- guru dalam menjalankan tugasnya secara memadai sesuai tingkat profesionalisme yang dimiliki akan menjamin ketenangan guru sebagai pendidik dan pengajar. Imbalan yang diterima guru tidak harus bersifat ekonmois belaka, tetapi juga dalam bentuk lain misalnya ucapan, piagam atau yang lainnya. Dengan adanya penghargaan baik dalam bentuk prestasi, terutama dalam menjalankan tugasnya akan dapat meningkatkan motivasi kerja.
Motivasi kerja guru adalah motivasi yang menyebabkan seorang guru bersemangat dalam mengajar karena telah terpenuhi kebutuhanannya. Guru bekerja karena adanya kebutuhan yang harus dipenuhi seperti untuk memperoleh pendapatan, keamanan, kesejahteraan, penghargaan, pengakuan dan bersosialisasi dengan masyarakat. Jika kebutuhan tersebut telah terpenuhi maka guru akan terdorong untuk bekerja. Pemenuhan kebutuahn tersebut berkaitan dengan kepuasan kerja, dimana antara harapan guru terpenuhi ol;eh kenyataan yang diberikan organisasi. Disinilah pentingnya kepala sekolah selaku manajer untuk dapat menganalisa dalam memenuhi kepuasan guru, sebab kepuasan guru berkaitan dengan produktivitas kerja guru. Dari uraian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa, diduga ada hubungan positif antara motivasi kerja guru dengan kepuasan kerja guru dalam menjalankan tugasnya. Dengan perkataan lain makin tinggi motivasi kerja maka makin tinggi pula kepuasan kerja guru.
3.        Hubungan Antara Supervisi Kepala Sekolah (X1) dan Motivasi Kerja (X2) Secara Bersama - Sama Dengan Kepuasan Kerja (Y)
Tanggapan guru atas pelaksanaan Supervisi yang dilakukan oleh Kepala Sekolah merupakan suatu penilaian yang diberikan guru kepada Kepala Sekolahnya terhadap perlakuan kepada dirinya. Perlakuan kepala sekolah dalam Supervisi bisa berdampak posistif bagi guru yang bersangkutan namun pula juga bisa berdampak negatif. Adanya cara-cara dan teknik pendekatan dalam melakukan supervisi kepada guru itu akan berpengaruh pada kepuasan kerja guru.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa, diduga bahwa ada hubungan positif secara bersama-sama antara supervisi kepala sekolah dan motivasi kerja dengan kepuasan kerja. Dengan kata lain semakin baik supervisi dan motivasi yang diberikan kepada guru, maka semakin tinggi tingkat kepuasan kerja yang dimiliki guru bersangkutan.
C.      HIPOTESIS
1.        Terdapat hubungan positif antara supervisi kepala sekolah dengan kepuasan kerja guru di SMP Negeri 23 Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara. Dengan perkataan lain, makin baik Supervisi Kepala Sekolah, makin tinggi kepuasan kerja guru.
2.        Terdapat hubungan yang positif motivasi kerja dengan kepuasan kerja guru di SMP Negeri 23 Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara. Dengan perkataan lain makin tinggi motivasi kerja maka makin tinggi pula kepuasan kerja guru.
3.        Terdapat hubungan yang positif secara bersama-sama antara supervisi kepala sekolah dan motivasi dengan kepuasan kerja guru SMP Negeri 23 Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara. Dengan perkataan lain, makin baik Supervisi Kepala Sekolah dan makin tinggi motivasi kerja secra bersama-sama, maka makin tinggi kepuasan kerja guru.



BAB III
METODE PENELITIAN
A.      TUJUAN PENELITIAN
Berdasarkan permasalahan penelitian ini tujuan penelitian ini adalah : (1) Untuk mengetahui hubungan supervisi kepala sekolah dengan kepuasan kerja guru di SMP Negeri 23 Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara;(2) Untuk mengetahui hubungan motivasi kerja guru di SMP Negeri 23 Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara;(3) Untuk mengetahui hubungan supervisi kepala sekolah dan motivasi kerja secara bersama-sama dengan kepuasan kerja guru di SMP Negeri 23 Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara.
B.       TEKNIK PENGAMBILAN SAMPEL
Menurut pendapat Mohamad Ali menyatakan populasi target adalah jumlah obyek yang akan diteliti.[11] Dengan demikian yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah guru di SMP Negeri 23 Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara.
Sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Menurut Suharsimi Arikunto menyatakan: “Apabila subyeknya kurang dari 100, diambil semua sekaligus sehingga penelitiannya penelitian populasi. Jika jumlah subyek besar maka diambil 10-15%, atau 20-25% atau lebih”[12]. Adapun teknik pengambilan sampel sejumlah 60 orang tersebut penulis menggunakan teknik random sampling proportional atau acak, yaitu teknik pengambilannya tidak sistematis, namun secara acak (seenak nya/semaunya) dengan memperhatikan proporsi jumlah populasi pada masing-masing sekolah. Tujuan utamanya adalah agar semua populasi terwakili. Jika pengambilan contoh tidak secara acak, maka tidak dapat dijamin bahwa keseluruhan populasi dapat terwakili.
C.      TEKNIK ANALISIS DATA
Untuk menganalisis data menggunakan uji statistik korelasi dan regresi berganda. Analisis korelasi dan regresi berganda ini adalah analisis tentang hubungan antara satu dependent variabel dengan dua atau lebih independent variabel. Penelitian ini menggunakan tiga buah instrumen yang berasal dari kajian teoritis dan instrumen tersebut telah diadakan uji cobakan untuk mengetahui validitasnya.
Untuk mengetahui penafsiran terhadap koefisien korelasi yang ditemukan berpedoman pada pendapat Sugiyono[13]. Selengkapnya arti tingkat hubungan masing-masing variabel dapat dilihat selengkapnya pada tabel berikut ini :
Tabel : Penafsiran Koefisien Korelasi
No
Interval Koefisien
Tingkat Hubungan
1
0,00 – 0, 199
Sangat rendah
2
0,20 – 0, 399
Rendah
3
0, 40 – 0, 599
Sedang
4
0, 60 – 0, 799
Kuat
5
0, 80 – 1, 00
Sangat Kuat

Sumber : Sugiyono, Statistik Untuk Penelitian, (Bandung : Alfabeta, 2000) Interval kelas menurut Sudjana58, didasarkan atas banyaknya responden, karena dalam penelitian ini hanya 60 orang berarti lebih kecil dari 200, maka interval kelasnya menggunakan paling sedikit 5 dan paling banyak 15.


BAB IV
HASIL PENGUMPULAN DATA
A.      DESKRIPSI DATA
Deskripsi data yang akan disajikan dari hasil penelitian ini adalah untuk memberikan gambaran secara umum mengenai penyebaran data yang diperoleh dilapangan. Data yang disajikan berupa data mentah yang diolah menggunakan teknik statistik deskripsi. Adapun dalam deskripsi data ini yang disajikan dengan bentuk distribusi frekuensi, total skor, harga skor rata-rata, simpangan baku, modus, median, skor maksimum dan skor minimum yang disertai histogram.
Sampel yang diambil data dalam penelitian ini adalah 60 orang guru di SMP Negeri 23 Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara.  Deskripsi dari masing-masing variabel berdasarkan hasil penyebaran kuesioner kepada 60 orang guru tersebut hasilnya dapat dijelaskan.
1.        Data Kepuasan Kerja (Y)
Mengenai data dari hasil penelitian mengenai variabel terikat yaitu Kepuasan Kerja (Y) yang dijaring memelui penyebaran kuesioner, dengan jumlah pertanyaan sebanyak 20 butir instrumen dengan penggunaan skala pilihan jawaban skala lima ( 5 opsion), mempunyai skor teoretik antara 20 sampai 100. Sedangkan skor empirik menyebar dari skor terendah 44 sampai dengan skor tetrtinggi 77, dengan skor total yaitu 3586, rata-rata (M) 59,8. simpangan baku (SMP) 6,379, modus (Mo) 61,4 median (Me) 60,792 dan varians 40,691.

2.        Data Supervisi Kepala Sekolah (X1)
Data dari hasil penelitian mengenai variabel bebas pertama yaitu Supervisi Kepala Sekolah (X1) yang dijaring melalui penyebaran kuesioner, dengan jumlah pertanyaan sebanyak 18 butir instrumen dengan penggunaan skala pilihan jawaban skala lima ( 5 opsion), mempunyai skor teoretik antara 28 sampai 90. Sedangkan skor empirik menyebar dari skor terendah 45 sampai dengan skor tetrtinggi 72, dengan skor total yaitu 3658, rata-rata (M) 61 simpangan baku (SMP) 5,096, modus (Mo) 68,5 median (Me) 62,056 dan varians 25,96.
3.        Data Motivasi Kerja (X2)
Data dari hasil penelitian mengenai variabel bebas kedua yaitu Motivasi Kerja (X2) melalui penyebaran kuesioner, dengan jumlah pertanyaan sebanyak 18 butir instrumen dengan penggunaan skala pilihan jawaban skala lima ( 5 opsion), mempunyai skor teoretik antara 28 sampai 90. Sedangkan skor empirik menyebar dari skor terendah 47 sampai dengan skor tetrtinggi 70 dengan skor total yaitu 3593 rata-rata (M) 60, simpangan baku (SMP) 5,21, modus (Mo) 50,5, median (Me) 61,0 dan varians 27,19.
B.       PENGUJIAN PERSYARATAN ANALISIS
Untuk melakukan analisis regresi, korelasi maupun pengujian hipotesis terlebih dulu dilakukan pengujian persyaratan analisis variabel Kepauasan Kerja (Y), Supervsisi Kepala Sekolah (X1) dan Motivasai Kerja (X2). Persyaratan analisis yang dimaksud adalah persyaratan yang harus dipenuhi agar analisis dapat dilakukan, baik untuk keperluan memprediksi maupun untuk keperluan pengujian hipotesis. Terdapat tiga sayarat yang harus dipenuhi sebelum melakukan analisis regresi, baik regresi linear sederhana maupun regresi ganda. Persyaratan tersebut adalah (1) syarat normalitas galat taksiran ( Y-Yˆ ) dari suatu regresi sederhana, (2) syarat homogenitas varians kelompok-kelompok Y yang dikelompokkan berdasarkan kesamaan dengan data variabel prediktor, (3) syarat klinieran regresi Y atas X.
1.        Uji Normalitas
Pengujian normalitas galat taksiran Y atas X dilakukan dengan tujuan apakah populasi berdistribusi normal atau tidak. Uji normalitas data pada oenelitian ini menggunakan metode Kolmogorov Smirnov, dengan taraf signifikansi yang digunakan sebagai aturan untuk menerima atau menolak pengujian normalitas atau tidaknya suatu distribusi data adalah taraf signifikansi α = 0,05.
Berdasarkan perhitungan yang terdapat dilampiran 9 dan 10 normalitas galat variabel Kepuasan Kerja Guru atas variabel Supervisi Kepala Sekolah (normalitas galat Y atas X1) diperoleh nilai Lh = 0,0952.66dan normalitas galat variabel Kepuasan Kerja atas variabel Motivasi Kerja (normalitas galat Y atas X2) diperoleh nilai Lhitung = 0,1070.67. Dengan sampel untuk masing-masing variabel yaitu 60 orang (n=60) pada taraf signifikansi 0,05 L tabal = 1,8. Dengan demikian Lhitung = 0,0952 < 0,18 dan Lh = 0,1070 < 0,18. Berdasarkan hasil perhitungan tersebut maka hipotesis nol diterima berarti bahwa sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal.
2.        Uji Homogenitas
Pengujian homogenitas variabel bertujuan untuk menguji homogenitas varian antara kelompok skor Y yang dikelompokkan berdasarkan kesamaan nilai X. pengujian homogenitas varians inii dilakukan dengan uji Barlett. Adapun kriteria pengujian adalah terima Ho apabila χ 2 h lebih kecil atau sama dengan χ 2 t. Mengenai langkah yang diambil dalam pengujian homogenitas adalah dengan jalan mengelompokkan data Y berdasarkan kesamaan X1, kemudian menghitung nilai dk, 1/dk. Varians S12, log S12, yang kemudian akan diperoleh harga χ 2 hitung.
C.      PENGUJIAN HIPOTESIS
Hasil pengujian persyaratan analisis tersebut menunjukkan bahwa skor setiap variabel penelitian telah memenuhi syarat untuk dilakukan pengujian statistik lebih lanjut, yaitu pengujian hipotesis. Pengujian hipotesis dalam penelitian bertujuan untuk menguji tiga hipotesis yang telah dirumuskan di bab I yaitu : (1) Terdapat hubungan positif antara supervisi kepala sekolah dengan kepuasan kerja guru (2) Terdapat hubungan yang positif motivasi kerja guru dengan kepuasan kerja guru ; (3) Terdapat hubungan yang positif secara bersama-sama antara supervisi kepala sekolah dan motivasi kerja guru dengan kepuasan kerja guru. Teknik statistik yang digunakan untuk mengetahui hubungan antara variabel-variabel tersebut adalah teknik statistik korelasi product moment dan regresi ganda, secara sederhana dan ganda . Teknik ini digunakan untuk menguji besarnya kontribusi dari variabel (X) terhadap variabel (Y).
1.        Hubungan antara Supervisi Kepala Sekolah (X1) dengan Kepuasan Kerja (Y)
Hipotesis pertama dalam penelitian ini berbunyi Terdapat hubungan positif antara supervisi kepala sekolah dengan kepuasan kerja guru. Adapun pengujian hipotesis dengan menggunakan analisis regresi dan korelasi sederhana terhadap dua variabel Supervsisi Kepala Sekolah atas Kepuasan Kerja Guru menghasilkan arah regresi b sebesar 0,652 dan konstanta atau a sebesar 19,988. Maka dapat digambarkan bentuk hubungan antara kedua variabel tersebut oleh persaman regresi 1 X 0,652 19,988 Yˆ = + 70.

2.        Hubungan Antara Motivasi Kerja (X2) dengan Kepuasan Kerja (Y)
Hipotesis kedua dalam penelitian ini berbunyi Terdapat hubungan positif antara Motivasi Kerja dengan kepuasan kerja guru di Sekolah Dasar Negeri 066050 Perumnas Mandala Kabupaten Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara. Adapun pengujian hipotesis dengan menggunakan analisis regresi dan korelasi sederhana terhadap dua variabel Motivasi Kerja atas Kepuas an Kerja Guru menghasilkan arah regresi b sebesar 0,616 dan konstanta atau a sebesar 22,872. Maka dapat digambarkan bentuk hubungan antara kedua variabel tersebut oleh persaman regresi 2 X 0,616 22,872 Yˆ = + 76.
3.        Hubungan Antara Supervisi Kepala Sekolah (X1) dan Motivasi Kerja (X2) Secara Bersama-Sama Dengan Kepuasan Kerja Guru (Y)
Hipotesis ketiga yang diajukan dalam penelitian ini menyastakan bahwa terdapat hubungan positif antara Supervisi Kepala Sekolah dan Motivasi Kerja dengan Kepuasan Kerja. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa makin baik pelaksanaan Supervisi Kepala Sekolah dan makin tinggi Motivasi Kerja Guru, maka akan semakin meningkatkan Kepuasan Kerja. Sesuai hasil penghitungan ternyata diperoleh hubungan antara Supervisi Kepala Sekolah dan Motivasi Kerja secara bersama-sama dengan Kepuasan Kerja, hal ini dapat dinyatakan melalui persamaan regresi 1 2 X 0,346 X 0,419 13,517 Yˆ
D.      KETERBATASAN PENELITIAN
Dalam melakukan penelitian masih terdapat berbagai kelemahan dan kekurangan, walaupun penulis telah berupaya semaksimal mungkin dengan berbagai usaha untuk membuat hasil penelitian ini bisa menjadi sempurna. Penulis menyadari bahwa keterbatasan penelitian ini antara lain :
Pertama. Penelitian ini hanya membahas faktor-faktor positif yang berpengaruh terhadap kepuasan kerja, yaitu faktor Supervisi Kepala Sekolah dan Faktor Motivasi Kerja. Sedangkan secara obyektif masih banyak faktor lain yang mendukung kepuasan kerja seperti pemberian insentif, iklim organisasi dan sebagainya.
Kedua. Walapun penulis sebelum melakukan penelitian telah melakukan serangkaian uji coba untuk mendapatkan instrumen yang valid dan realiabel, namun demikian pengumpulan melalui angket ini masih ada kelemahankelemahan seperti jawaban yang kurang cermat, responden yang menjawab asalasalan dan tidak jujur, serta pertanyaan yang kurang lengkap.
Ketiga. Sebagai pribadi penulis mempunyai keterbatasan dalam melakukan penelaahan penelitian, pengetahuan yang kurang, literatur yang kurang, waktu dan tenaga. Hal ini merupakan kendala bagi penulis untuk melakukan penyusunan yang mendekati sempurna.
Keempat. Terlepas dari adanya kekurangan namun hasil penelitian ini telah memberikan informasi yang sangat penting bagi perkembangan guru yaitu ternyata terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara Supervisi Kepala Sekolah (X1) dan Motivasi Kerja (X2) secara bersama-sama dengan Kepuasan Kerja Guru (Y).




DAFTAR PUSTAKA
Ali, Muhamad. Metode Penelitian Kependidikan, Jakarta : Rineka Cipta, 1988
Arikunto, Suharsimi. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, Jakarta : Rajawali Pers, 1988
-----------------------, Organisasi dan Administrasi Pendidikan Teknologi dan Kejuruan, Jakarta : Rajawali Pers, 1990
Atmodiwiro, Soebagio dan Soeranto Tatosiswanto, Kepemimpinan Kepala Sekolah, Semarang : Adhi Waskitho, 1991
Bafadal, Ibrahim. Supervisi Pengajaran Teori dan Aplikasinya Dalam Membina Profesional Guru, Jakarta : Rineka Cipta, 1979.
Burhanuddin, Yusak. Administrasi Pendidikan. Bandung : Pustaka Setia, 1998
Davis, Keith dan John W. Newstrom, Perilaku Dalam Organisasi, Erlangga, Jakarta, 1985.
Earl V. Pullias dan James D. Young, Guru Adalah Segala-Galanya, Terate, Bandung, 1979
Gibson, James L, et al. 1995, Organizations, Alih bahasa : Nunuk Adiarni, Jakarta : Bina Rupa Aksara, 1995
Hadi, Sutrisno, Analisis Regresi, Yogyakarta : ANDI, 1982
Handayaningrat,Soewarno. Pengantar Studi Administrasi dan Management, Gunung Agung, Jakarta, 1982.
Hasibuan, Malayu SP, Organisasi dan Motivasi, Jakarta : Bumi Aksara, 1999
---------------, Manajemen Sumber Daya Manusia , Jakarta : Bumi Aksara, 2000
Komaruddin, Ensiklopedia Manajemen, Bandung; Alumni. 1983
Kast, Fremont E, dan James E. Rosenzweigt, Organisasi dan Manajemen, Jakarta: Bumi Aksara, 1995
Manullang, M dan Marihot Manullang, Manajemen Sumber Daya Manusia, Yogyakarta : BPFE, 2001
Mathis, Robert L and Jackson, John H., Human Resouce Management, Penerjemah : Jimmy Sadeli, Jakarta : Salemba Empat, 2001
Pidata, Made. Pemikiran Tentang Supervisi Pendidikan, Jakarta; Bumi Aksara, 1996
Robbins, Stephen P., Organizational Behaviour:Concepts, Contorversies, Apllications, New Jersey : Prentice Hall, Inc.
Sahertian, Piet A. dan Ida Aleida Sahertian, Supervisi Pendidikan Dalam Rangka Inservice Education, Jakarta : Rineka Cipta, 1992
Sedarmayanti, Sumber Daya Manusia, Jakarta : Bumi Aksara, 2000
Supriadi, Dedi, Mengangkat Citra dan Martabat Guru, Yogyakarta : Adi Citra Karya Nusa, 1998
Sugiyono, Statistika Untuk Penelitian, Jakarta : Alfabeta, 2000
Tilaar, H. AR.,Beberapa Agenda Refomasi Pendidikan Nasional Dalam Persepektif Abad 21, Magelang : Tera Indonesia, 1999
Wexley, Kennneth N. dan Yukl, Gary A.,Perilaku Organisasi dan Psikologi Personalia, Jakarta : Rineka Cipta, 1992
Winardi, Organisasi Perkantoran Modern, Bandung : Alumni, 1971
Zainun, Buchari , Manajemen dan Motivasi, Jakarta : Balai Aksara, 1979





[1] H.A.R, Beberapa Agenda Ereformasi Pendidikan Nasional, Dalam Perpektif Abad 21, Magelang:
tera Indonesia, 1999, hal. 104
[2] Keith Davis & John W. Newstrom, Perilaku Dalam Organisasi, (Jakarta : Erlangga, 2000 ) p. 105
[3] Robbin, Stephen, Organizational Behaviour, Concept, Controversial and Application ( New Jersey
: Prentice Hall, 1989 ) p. 27
[4] Shermerhorn, Jihn R. James G.Hunt dan Richarad N. Osborn, Managing Organizational
Behaviour ( New York : Prentice Hall, 1995 ) p. 144.
[5] Mathias, Robert L. dan Kohn H. Jacksons, Human Resource Management, Penerjemah : Jimmy
Sadeli dan Bayu Prawira Hie (Jakrta : Salemba Empat, 2000) p. 98
[6] Arni Muhammad, Komunikasi Organisasi (Jakarta : Bumi Aksara, 1006) p. 79
[7] Malayu Hasibuan, op cit, hal. 203
[8] Suharsimi Arikunto, Organisasi dan Administrasi Pendidikan Teknologi dan Kejuruan, ( Jakarta :
Rajawali Pers, 1989), p. 99
[9] Suharsimi Arikunto, loc cit
[10] Ibrahim Bafadal, Supervisi Pengajaran Teori dan Aplikasinya Dalam Membina Profesional Guru
(Jakarta : Rineka Cipta,1979) ,p. 100
[11] Muhammad Ali, Penelitian Pendidikan (Jakarta : Rineka Cipta, 1985), p. 54
[12] Suharsimi Arikunto, 1983, Metode Research, Jakrta : Rajawali Pers, halaman 107.
[13] Sugiyono, Statistik Untuk Penelitian, (Bandung : Alfabeta, 2000), p. 172
Poskan Komentar

Tulisan Paling Dicari