Jumat, 07 Desember 2012

Hubungan Antara Pengawas Dan Kepemimpinan Kepala Sekolah Dengan Efektivitas Mengajar Guru SMK Teladan Rantau Prapat Kabupaten Labuhan Batu, Provinsi Sumatera Utara (Proposal Penelitian)


KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah Yang Maha Kuasa. Yang telah melimpahkan anugerah yang tak terhingga kepada setiap hamba-Nya. Yang telah memberikan pengetahuan kepada hamba-Nya untuk menjadi manusia yang berilmu. Shalawat dan salam penulis ucapkan kepada Baginda Nabi Muhammad Saw yang telah membawa umat manusia dari kegelapan hingga terang benderang, dari zaman kebodohan sampai zaman teknologi sekarang ini. Alhamdulillah, akhirnya penulis dapat menyelesaikan proposal penelitian yang berjudul : Hubungan Antara Pengawas Dan Kepemimpinan Kepala Sekolah Dengan Efektivitas Mengajar Guru SMK Teladan Rantau Prapat Kabupaten Labuhan Batu, Provinsi Sumatera Utara. Untuk itu penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada :
1.        Bapak Candiki Repantu, selaku Dosen Pembimbing pada Mata Kuliah Supervisi Pendidikan II.
2.        Toni Sembiring, Kepala SMK Teladan Rantau Prapat, Kabupaten Labuhan Batu, Provinsi Sumatera Utara.
3.        Dewan guru dan karyawan SMK Teladan Rantau Prapat, Kabupaten Labuhan Batu, Provinsi Sumatera Utara atas bantuannya kepada penulis selama penelitian.
4.        Teman-teman MPI angkatan 2009, teruslah berjuang kawan untuk mencapai cita-cita selama Allah masih memberikan kesempatan untuk kita. Mudah-mudahan amal baik kalian diterima Allah SWT.
Semoga Laporan Proposal Penelitian ini dapat bermanfaat bagi kita semua sebagai pengetahuan dan wawasan bagi pembaca.



Medan, 01 Juni 2011
Penulis

BAB I
PENDAHULUAN
A.      LATAR BELAKANG MASALAH
Pendidikan Indonesia boleh dibilang selamanya tidak memberikan nilai apalus dan kegembiraan masyarakat di bangsa yang besar ini, kalaupun ada itu hanya musiman misalnya; lomba atau olympiade dan beberapa iven lainnya. Yang mana selama ini yang menjadi penyebab terhadap rendahnya mutu pendidikan di negeri secara nacional seringkali sangat bersifat secara material atau secara nyata seperti; kurangnya fasilitas sarana dan prasarana pendidikan, bangunan yang kurang memadai, perpustakaan yang kurang ketersediaan, laboratorium sebagai gudang ilmu nyata yang kurang, sistem pengajaran sebagai upaya nyata yang kurang, tenaga edukasi sebagai pelaku, anggaran pendidikan sebagai operasional pendidikan yang kurang.
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab.
Apabila kita perhatikan tujuan pendidikan dalam Sistim Pendidikan Nasional, yaitu membentuk manusia Indonesia seutuhnya dalam arti tersedianya sumber daya manusia yang berkualitas, maka harus didukung oleh tenaga pendidik yang berkinerja baik. Kinerja tenaga pendidik akan bisa ditingkatkan bila didukung dengan adanya supervisi, motivasi dan pemberian bimbingan yang baik.
Menurut Miner (1988 : 14) kinerja adalah tingkat keberhasilan seorang karyawan di dalam melaksanakan pekerjaan. Adapun beberapa variabel yang digunakan untuk penilaian perilaku, yaitu : kwalitas pekerjaan, kwantitas pekerjaan, ketepatan waktu, dan kerjasama dengan rekan kerja. Jika kinerja diartikan sebagai hasil kerja, maka kinerja dapat pula diartikan sebagai prestasi kerja yang dihasilkan oleh seseorang
atau kelompok, dengan demikian kinerja guru adalah merupakan prestasi
kerja guru.
Supervisi merupakan suatu aktivitas pembinaan yang direncanakan untuk membantu guru dalam melakukan pekerjaan mereka secara efektif. Agar supervisi dapat dilaksanakan secara efektif, maka harus terdapat azas keyakinan dan prinsip supervisi. Jika azas dan prinsip-prinsip tersebut diperhatikan dan benar-benar dilaksanakan oleh supervisor, maka diharapkan guru dalam melaksanakan tugas cenderung dapat
mencapai tujuan yang diharapkan.
Motivasi adalah keinginan di dalam seseorang individu yang mendorong ia untuk bertindak (Moekiyat, 2002 : 5). Di dalam organisasi pemerintah termasuk di lingkungan sekolah, motivasi sangat diperlukan guna mendorong pegawai dalam menjalankan tugasnya, sehingga dapat mencapai tujuan yang diharapkan. Pemberian motivasi merupakan salah satu tugas pimpinan dalam rangka mengarahkan potensi dan sumber daya manusia untuk pencapaian tujuan organisasi.
Pemimpin (leader/head) adalah seseorang yang mempergunakan wewenang dan kepemimpinannya, mengarahkan bawahan untuk mengerjakan sebagian pekerjaannya dalam mencapai tujuan organisasi. (Khotler, 2009:123). Pelaksanaan kepemimpinannya cenderung menumbuhkan kepercayaan, partisipasi, loyalitas, dan internal motivasi para bawahan dengan cara persuasive. Hal ini semua akan diperoleh karena kecakapan, kemampuan, dan perilakunya.
Dari fenomena kepemimpinan diatas tidak perlu diterapkan sekolah, karena pemimpin perlu mengetahui persoalan yang sebenarnya pada proses belajar mengajar yang dilakukan oleh guru, dengan demikian perlu diketahui pentingnya supervisi, motivasi dan bimbingan kepada guru untuk meningkatkan kinerja yang ada pada dirinya.
B.     PEMBATASAN MASALAH
Mengingat banyaknya fungsi dari sebuah manajemen, sehingga begitu luas dan kompleksitasnya cakupan pembahasannya, maka perlu diadakan pembatasan masalah agar penelitian ini mencapai sasaran yang tepat. Dengan demikian masalah yang diteliti dalam penelitian ini dibatasi pada Hubungan Antara Pengawas Dan Kepemimpinan Kepala Sekolah Dengan Efektivitas Mengajar Guru.
C.      RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang masalah dan pembatasan masalah di atas, maka masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut: “Bagaimana Hubungan Antara Pengawas Dan Kepemimpinan Kepala Sekolah Dengan Efektivitas Mengajar Guru di SMK Teladan Rantau Prapat Kabupaten Labuhan Batu, Provinsi Sumatera Utara”.

BAB II
KAJIAN TEORI KERANGKA BERFIKIR DAN HIPOTESIS
A.      SUPERVISOR SATUAN PENDIDIKAN
Tugas pokok pengawas sekolah/satuan pendidikan adalah melakukan penilaian dan pembinaan dengan melaksanakan fungsi-fungsi supervisi, baik supervisi akademik maupun supervisi manajerial. Berdasarkan tugas pokok dan fungsi di atas minimal ada tiga kegiatan yang harus dilaksanakan pengawas yakni: (1) Melakukan pembinaan pengembangan kualitas sekolah, kinerja kepala sekolah, kinerja guru, dan kinerja seluruh staf sekolah (2) Melakukan evaluasi dan monitoring pelaksanaan program sekolah beserta pengembangannya (3) Melakukan penilaian terhadap proses dan hasil program pengembangan sekolah secara kolaboratif dengan stakeholder sekolah
Mengacu pada SK Menpan nomor 118 tahun 1996 tentang jabatan fungsional pengawas dan angka kreditnya, Keputusan bersama Mendikbud nomor 03420/O/1996 dan Kepala Badan Administrasi Kepegawaian Negara nomor 38 tahun 1996 tentang petunjuk pelaksanaan jabatan fungsional pengawas serta Keputusan Mendikbud nomor 020/U/1998 tentang petunjuk teknis pelaksanaan jabatan fungsional pengawas sekolah dan angka kreditnya, dapat dikemukakan tentang tugas pokok dan tanggung jawab pengawas sekolah yang meliputi: (1) Melaksanakan pengawasan penyelenggaraan pendidikan di sekolah sesuai dengan penugasannya pada TK, SD, SLB, SLTP dan SLTA (2) Meningkatkan kualitas proses belajar-mengajar/bimbingan dan hasil prestasi belajar/bimbingan siswa dalam rangka mencapai tujuan pendidikan.
Tugas pokok yang pertama merujuk pada supervisi atau pengawasan manajerial sedangkan tugas pokok yang kedua merujuk pada supervisi atau pengawasan akademik. Pengawasan manajerial pada dasarnya memberikan pembinaan, penilaian dan bantuan/bimbingan mulai dari rencana program, proses, sampai dengan hasil. Bimbingan dan bantuan diberikan kepada kepala sekolah dan seluruh staf sekolah dalam pengelolaan sekolah atau penyelenggaraan pendidikan di sekolah untuk meningkatkan kinerja sekolah. Pengawasan akademik berkaitan dengan membina dan membantu guru dalam meningkatkan kualitas proses pembelajaran/bimbingan dan kualitas hasil belajar siswa.
Sedangkan wewenang yang diberikan kepada pengawas sekolah meliputi: (1) memilih dan menentukan metode kerja untuk mencapai hasil yang optimal dalam melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya sesuai dengan kode etik profesi, (2) menetapkan tingkat kinerja guru dan tenaga lainnya yang diawasi beserta faktor-faktor yang mempengaruhinya, (3) menentukan atau mengusulkan program pembinaan serta melakukan pembinaan. Wewenang tersebut menyiratkan adanya otonomi pengawas untuk menentukan langkah dan strategi dalam menentukan prosedur kerja kepengawasan. Namun demikian pengawas perlu berkolaborasi dengan kepala sekolah dan guru agar dalam melaksanakan tugasnya sejalan dengan arah pengembangan sekolah yang telah ditetapkan kepala sekolah.
Berdasarkan kedua tugas pokok di atas maka kegiatan yang dilakukan oleh pengawas antara lain: (1) Menyusun program kerja kepengawasan untuk setiap semester dan setiap tahunnya pada sekolah yang dibinanya. (2) Melaksanakan penilaian, pengolahan dan analisis data hasil belajar/bimbingan siswa dan kemampuan guru. (3) Mengumpulkan dan mengolah data sumber daya pendidikan, proses pembelajaran/bimbingan, lingkungan sekolah yang berpengaruh terhadap perkembangan hasil belajar/bimbing­an siswa. (4) Melaksanakan analisis komprehensif hasil analisis berbagai faktor sumber daya pendidikan sebagai bahan untuk melakukan inovasi sekolah (5) Memberikan arahan, bantuan dan bimbingan kepada guru tentang proses pembelajaran/bimbingan yang bermutu untuk meningkatkan mutu proses dan hasil belajar/ bimbing­an siswa. (6) Melaksanakan penilaian dan monitoring penyelenggaran pendidikan di sekolah binaannya mulai dari penerimaan siswa baru, pelaksanaan pembelajaran, pelaksanaan ujian sampai kepada pelepasan lulusan/pemberian ijazah. (7) Menyusun laporan hasil pengawasan di sekolah binaannya dan melaporkannya kepada Dinas Pendidikan, Komite Sekolah dan stakeholder lainnya. (8) Melaksanakan penilaian hasil pengawasan seluruh sekolah sebagai bahan kajian untuk menetapkan program kepengawasan semester berikutnya. (9) Memberikan bahan penilaian kepada sekolah dalam rangka akreditasi sekolah. (10) Memberikan saran dan pertimbangan kepada pihak sekolah dalam memecahkan masalah yang dihadapi sekolah berkaitan dengan penyelenggaraan pendidikan.
Tugas pokok inspecting (mensupervisi) meliputi tugas mensupervisi kinerja kepala sekolah, kinerja guru, kinerja staf sekolah, pelaksanaan kurikulum/mata pelajaran, pelaksanaan pembelajaran, ketersediaan dan pemanfaatan sumberdaya, manajemen sekolah, dan aspek lainnya seperti: keputusan moral, pendidikan moral, kerjasama dengan masyarakat.
Tugas pokok advising (memberi advis/nasehat) meliputi advis mengenai sekolah sebagai sistem, memberi advis kepada guru tentang pembelajaran yang efektif, memberi advis kepada kepala sekolah dalam mengelola pendidikan, memberi advis kepada tim kerja dan staf sekolah dalam meningkatkan kinerja sekolah, memberi advis kepada orang tua siswa dan komite sekolah terutama dalam meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pendidikan.
Tugas pokok monitoring/pemantauan meliputi tugas: memantau penjaminan/ standard mutu pendidikan, memantau penerimaan siswa baru, memantau proses dan hasil belajar siswa, memantau pelaksanaan ujian, memantau rapat guru dan staf sekolah, memantau hubungan sekolah dengan masyarakat, memantau data statistik kemajuan sekolah, memantau program-program pengembangan sekolah.
Tugas pokok coordinating meliputi tugas: mengkoordinir sumber-sumber daya sekolah baik sumber daya manusia, material, financial dll, mengkoordinir kegiatan antar sekolah, mengkoordinir kegiatan preservice dan in service training bagi Kepala Sekolah, guru dan staf sekolah lainnya, mengkoordinir personil stakeholder yang lain, mengkoordinir pelaksanaan kegiatan inovasi sekolah.
Tugas pokok performing leadership/memimpin meliputi tugas: memimpin pengembangan kualitas SDM di sekolah binaannya, memimpin pengembangan inovasi sekolah, partisipasi dalam memimpin kegiatan manajerial pendidikan di Diknas yang bersangkutan, partisipasi pada perencanaan pendidikan di kabupaten/kota, partisipasi pada seleksi calon kepala sekolah/calon pengawas, partisipasi dalam akreditasi sekolah, partisipasi dalam merekruit personal untuk proyek atau program-program khusus pengembangan mutu sekolah, partisipasi dalam mengelola konflik di sekolah dengan win-win solution dan partisipasi dalam menangani pengaduan baik dari internal sekolah maupun dari masyarakat. Itu semua dilakukan guna mewujudkan kelima tugas pokok di atas.


B.       KEPEMIMPINAN
Suatu kenyataan kehidupan organisasional bahwa pemimpin suatu organisasi memainkan peranan yang amat penting, dan sangat menentukan dalam usaha pencapaian tujuan organisasi yang telah ditetapkan sebelumnya. Seorang pemimpin baik individu maupun sebagai suatu kelompok tidak mungkin dapat bekerja dengan sendiri. Pimpinan membutuhkan kelompok orang lain yang disebut bawahan yang digerakkan sedemikian rupa sehingga para bawahan itu memberikan pengabdian dan sumbangsihnya kepada organisasi. Pengabdian tersebut dapat direalisasikan dengan cara bekerja yang efisien, efektif, dan produktif.
Menurut Kamus Bahasa Inggris kepemimpinan diambil dari kata lead yang berarti memimpin, sedangkan leader adalah seorang pemimpin dan leadership adalah kepemimpinan. Ngalim Poerwanto mengutip beberapa definisi kepemimpinan dari Prajudi Atmosudirdjo sebagai berikut : Kepemimpinan dapat dirumuskan sebagai suatu kepribadian seseorang yang mendatangkan keinginan pada kelompok orang-orang untuk mencontohkannya atau mengikutinya, atau yang memancarkan suatu pengaruh yang tertentu, suatu kekuatan atau wibawa, yang demikian rupa sehingga membuat sekelompok orang mau melakukan apa yang dikehendakinya. Kepemimpinan adalah suatu seni (art), kesanggupan (ability) atau teknik (technique) untuk membuat sekelompok orang bawahan dalam organisasi formal atau para pengikut atau simpatisan dalam organisasi informal mengikuti atau mentaati segala apa yang dikehendakinya, membuat mereka begitu antusias atau bersemangat untuk mengikutinya atau bahkan berkorban untuknya. Kepemimpinan dapat dipandang sebagai suatu bentuk persuasi suatu seni pembinaan kelompok orang-orang tertentu, biasanya melalui .human relation. dan motivasi yang tepat, sehingga mereka tanpa adanya rasa takut mau bekerjasama dan membanting tulang untuk memahami dan mencapai segala apa yang menjadi tujuan organisasi.
Hoy dan Miskel mengutip beberapa definisi dari beberapa sumber (1) Ke-pemimpinan adalah kekuatan (power) yang didasarkan atas tabiat /watak seseorang yang memiliki kekuasaan lebih, biasanya bersifat normatif. (2) Kepemimpinan adalah permulaan dari suatu struktur atau prosedur baru untuk mencapai tujuan-tujuan dan sasaran organisasi untuk mengubah tujuan-tujuan dan sasaran organisasi. (3) Ke-pemimpinan adalah proses mempengaruhi kegiatan-kegiatan suatu kelompok yang diorganisasi menuju kepada penentuan dan pencapai tujuan. Menurut Burhanuddin yang mengutip pendapat Good, kepemimpinan adalah the ability and readiness to inspire, guide, direct, or manage other., yang berarti kepemimpinan merupakan suatu kemampuan dan kesiapan seseorang untuk mempengaruhi, membimbing dan mengarahkan atau mengelola orang lain agar mereka mau berbuat sesuatu demi tercapainya tujuan bersama. Ada banyak definisi tentang kepemimpinan. Tetapi pada dasarnya kepemimpinan berarti mempengaruhi orang lain. Sebagian besar perspektif leadership memandang pemimpin sebagai sumber pengaruh. Pemimpin dalam memimpin pada dasarnya mempengaruhi dan para pengikut mengikuti sebagai pihak yang dipengaruhi. Pada dasarnya pula kepemimpinan mengacu pada suatu proses untuk menggerakkan sekelompok orang menuju ke suatu yang telah ditetapkan/disepakati bersama dengan mendorong atau memotivasi mereka untuk bertindak dengan cara yang tidak memaksa. Dengan kemampuannya seorang pemimpin yang baik mampu menggerakkan orang-orang menuju tujuan jangka panjang dan benar-benar merupakan upaya memenuhi kepentingan mereka yang terbaik juga. Selain itu kepemimpinan juga merupakan suatu kemampuan untuk menjalankan pekerjaan melalui orang lain dengan mendapatkan kepercayaan dan kerja sama.
Hampir semua aspek pekerjaan dipengaruhi dan tergantung pada kepemimpinan. Dari beberapa teori yang telah dikemukakan dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan adalah sifat-sifat kepribadian seseorang termasuk didalamnya kewibawaan, untuk dijadikan sebagai sarana dalam rangka menyakinkan yang dipimpinnya agar mau dan dapat melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya dengan rela, penuh semangat serta tidak merasa terpaksa. Suatu kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk mempengaruhi, membimbing, mengarahkan serta mengelola baik individu maupun kelompok dengan segala ilmu yang ada agar mereka mau berbuat sesuatu demi tercapainya suatu tujuan bersama.
Robert C. Bog sebagaimana dikutip oleh Dirawat dkk mengemukakan empat kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin pendidikan, yaitu : (1) Ke-mampuan mengorganisasikan dan membantu staf di dalam merumuskan perbaikan pengajaran di sekolah dalam bentuk program yang lengkap. (2) Kemampuan untuk membangkitkan dan memupuk kepercayaan pada diri sendiri, guru-guru dan anggota staf sekolah lainnya. (3) Kemampuan untuk membina dan memupuk kerja sama dalam mengajukan dan melaksanakan program-program supervisi. (4) Kemampuan untuk mendorong dan membimbing guru-guru serta segenap staf sekolah lainnya agar mereka dengan penuh kerelaan dan tanggung jawab berpartisipasi secara aktif pada setiap usaha-usaha sekolah untuk mencapai tujuan sekolah sebaik-baiknya.
Sebagai pemimpin pendidikan, kepala sekolah perlu memiliki kompetensi dasar kepemimpinan yaitu : (1) Ketrampilan Teknis (Technical Skill) Ketrampilan yang berhubungan dengan pengetahuan, metode dan teknik tertentu dalam menyelesaikan suatu tugas-tugas tertentu. Dalam prakteknya, keterlibatan seorang pemimpin dalam setiap bentuk technical skill disesuaikan dengan status/tingkatan pemimpin itu sendiri. Ketrampilan teknis ini menunjukkan bahwa seorang pemimpin mempunyai kemampuan untuk menggunakan pengetahuan, metode, teknik-teknik tertentu dalam menyelesaikan tugas secara spesifik. Ketrampilan yang dimaksud misalnya : menulis satuan pelajaran, mengembangkan pengajaran unit, melengkapi sarana pusat sumber belajar, menyusun jadwal supervisi klinis, menyiapkan agenda pertemuan, mengetik. Kegiatan teknis ini selalu hadir dalam setiap situasi administratif dan supervisi. Namun keterlibatan seorang pemimpin dalam bentuk .technical skill. ini semestinya disesuaikan dengan status/tingkatan pemimpin. Dalam arti semakin tinggi kedudukan seseorang dalam struktur organisasi maka secara proporsional ketrampilan teknisnya menjadi kurang penting. (2) Ketrampilan manusiawi (Human Skill). Ketrampilan ini menunjukkan kemampuan seorang pemimpin di dalam bekerja dengan orang lain secara efektif untuk membina kerjasama. Untuk mencapai kemampuan ini pemimpin harus dapat mengenal dirinya sendiri .akseptansi diri. Dan sesama orang lain. Ketrampilan manusiawi sangat strategis untuk dapat memperoleh produkvitas organisasi yang tinggi, karena dalam implementasinya terwujud pada upaya bagaimana seorang pemimpin mampu memotivasi bawahan. Pengetahuannya didasarkan pada bagaimana membangun kepemimpinan yang efektif itu, memotivasi bawahan, pengembangan sumber daya manusia. Kunci keberhasilan pemimpin dalam mempengaruhi bawahannya dilihat dari kemampuan dalam melaksanakan ketrampilan yang berhubungan dengan manusia. Ketrampilan manusiawi ternyata sangat menentukan pola hubungan antara kepala sekolah selaku pemimpin dengan guru sebagai bawahan. Kepala sekolah yang mampu menggunakan ketrampilan ini akan dapat memahami perbedaan kematangan bawahan, yang berarti pula memahami tingkat kesiapan setiap guru dalam menerima dan menjalankan tugas yang akan diberikan. Hal ini sangat berguna bagi kepala sekolah dalam rangka pengembangan profesionalisme guru, karena pemahaman tingkat kematangan bawahan menjadikan dasar dalam memutuskan kegiatan pengembangan seperti apa yang paling sesuai. (3) Ketrampilan konseptual (Conseptual Skill) Ketrampilan ini menunjukkan kemampuan dalam berfikir, seperti menganalisa suatu masalah, memutuskan dan memecahkan masalah dengan baik. Untuk dapat menerapkan ketrampilan ini pemimpin dituntut memiliki pemahaman yang utuh terhadap organisasinya. Tujuannya agar ia dapat bertindak secara selaras dengan tujuan organisasi secara menyeluruh atas dasar tujuan dan kebutuhan kelompoknya sendiri.
Kepala sekolah sebagai pemimpin dituntut pula kemampuannya dalam memandang organisasi sekolahnya sebagai suatu totalitas, sebagai suatu sistem yang terdiri dari komponen-komponen maupun program pendidikan di sekolahnya sebagai suatu sistem pengajaran. Semakin tinggi kedudukan orang di organisasi, maka ketrampilan tersebut semakin penting pula.
C.      EFEKTIVITAS MENGAJAR
Sebelum menguraikan definisi efektivitas mengajar, ada baiknya kita menguraikan definisi dari efektif, mengajar dan efektivitas mengajar. Efektivitas sering diartikan sebagai keberhasilan di dalam mencapai sesuatu. Dalam memaknai efektivitas setiap orang memberi arti yang berbeda, sesuai dengan sudut pandang dan kepentingan masing-masing. Hal tersebut diakui oleh Chung dan Maginson (1981),.Efectivenes means different to different people..29 Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1990:219) dikemukakan bahwa efektif berarti ada efeknya (akibat, pengaruh, kesan), manjur, mujarab, dapat membawa hasil.30 Jadi efektivitas adalah adanya kesesuaian antara orang yang melaksanakan tugas dengan sasaran yang dituju. Efektivitas adalah bagaimana suatu organisasi berhasil mendapatkan dan memanfaatkan sumber daya dalam usaha mewujudkan tujuan operasional.
Berdasarkan pengertian tersebut, dapat dikemukakan bahwa efektivitas berkaitan dengan terlaksananya semua tugas pokok, tercapainya tujuan, ketepatan waktu dan adanya partisipasi aktif dari anggota. Masalah efektivitas biasanya berkaitan erat dengan perbandingan antara tingkat pencapaian tujuan dengan rencana yang telah disusun sebelumnya atau perbandingan hasil nyata dengan hasil yang direncanakan. Dalam pengajaran yang efektif, guru dapat mengajar bagaimana seharusnya siswa belajar dan menginternalisasikan nilai-nilai agar siswa mau belajar terusmenerus sepanjang hayatnya. Kesadaran belajar sepanjang hidupnya demikian sangat diperlukan, mengingat perkembangan dan tuntutan dunia yang berkembang melesat seperti sekarang ini, hanya dapat diikuti oleh orang yang sepanjang waktu mau belajar. Dalam efektivitas terdiri atas 3 kriteria waktu yang meliputi : (1) Jangka pendek untuk menunjukkan hasil kegiatan dalam kurun waktu sekitar satu tahun, dengan kriteria kepuasan, efisiensi dan produksi. (2)Jangka menengah, dalam waktu 5 tahun dengan kriteria perkembangan serta kemampuan beradaptasi dengan lingkungan dan organisasi. (3)Jangka panjang, waktu ini digunakan untuk menilai waktu yang akan datang, menggunakan kriteria kemampuan untuk mempertahankan kelangsungan hidup dan kemampuan membuat perencanaan strategis bagi kegiatan di masa depan. Sedangkan pengertian mengajar adalah : (1) Mengajar adalah menyuruh anak menghafal. (2) Me-ngajar adalah menyampaikan pengetahuan. (3)Mengajar adalah menggunakan satu metode mengajar tertentu. Pengertian mengajar dalam arti luas yaitu : (1) Mengajar adalah menanamkan pengetahuan pada anak. Pada definisi ini tujuan mengajar ialah penguasaan pengetahuan oleh anak. Anak dianggap pasif. Pengajaran bersifat teacher centered, karena gurulah yang memegang peranan utama. Sering ilmu pengetahuan kebanyakan diambil dari buku pelajaran yang  tidak dihubungkan dengan realitas dalam kehidupan sehari-hari. Pengajaran serupa ini disebut intelektualitas sebab menekankan dari segi pengetahuan. (2) Mengajar adalah menyampaikan kebudayaan pada anak. Menyampaikan kebudayaan pada anak berarti mengenalkan kebudayaan bangsanya dan kebudayaan dunia. Bukan saja hanya mengenalkan akan tetapi ada pula yang mengharapkan agar anak-anak tidak hanya menguasai kebudayaan yang ada, tetapi agar mereka juga turut membantu memperkaya kebudayaan itu dengan mencipatakan kebudayaan baru menurut zaman yang senantiasa berubah itu. (3) Mengajar adalah suatu aktivitas mengorganisasi atau mengatur lingkungan sebaik-baiknya dan menghubungkannya dengan anak sehingga terjadi proses belajar mengajar. Dalam hal ini mengajar itu suatu usaha dari pihak guru, yakni mengatur lingkungan, sehingga terbentuklah suatu suasana yang sebaik-baiknya bagi anak untuk belajar, yang belajar adalah anak itu sendiri berkat kegiatannya sendiri, guru hanya dapat membimbing anak. Oleh karena itu dimanfaatkannya segala faktor dalam lingkungan, termasuk dirinya, buku-buku, alat peraga lingkungan, sumber lain dan sebagainya. Dalam hal ini pengajaran lebih bersifat pupil centered, guru berperan sebagai .manager of learning. Dalam kegiatan belajar mengajar, terdapat tahapan sebelum memulai tugas pengajaran. Adapun tahapan tersebut terdiri dari 3 tahap yaitu : (1) Tahap persiapan atau perencanaan. Moh. Uzer Usman mengatakan bahwa komponen yang penting dalam penyusunan program pengajaran adalah sebagai berikut : (a) Penguasaan materi pelajaran (b) Analisis materi pelajaran (c) Program satuan pelajaran (d) Rencana pengajaran
Guru diharapkan mampu membuat persiapan mengajar secara teratur dan tertulis di samping penguasaan bahan yang di perlukan, dan persiapan yang telah dibuat sebaiknya dikaji kembali sebelum dilaksanakan di depan kelas, jika ada hal-hal yang perlu direvisi atau disempurnakan. (2) Tahap pelaksanaan Tahap pelaksanaan ini berlangsung pada saat guru memimpin kegiatan belajar mengajar. Pada tahap ini guru harus senantiasa mengupayakan dan menjaga agar siswa terlibat secara aktif dalam kegiatan belajar mengajar. Agar kegiatan proses belajar mengajar berjalan dengan baik maka guru harus menguasai bahan pengajaran yang akan diberikan, memilih metode yang tepat, menggunakan sarana dan fasilitas pendidikan yang menunjang, mengetahui sistematika bahan yag akan diberikan serta mengatur tugas siswa. (3) Tahap penilaian atau evaluasi Pada tahap ini guru melakukan penilaian terhadap kegiatan belajar mengajar yang baru saja berlangsung. Penilaian tersebut ada yang berkaitan dengan materi dan juga proses bagaimana murid memperoleh materi tersebut. Untuk mengetahui apakah materi yang diberikan dipahami atau tidak, dapat dilakukan dengan jalan membuat rangkuman intii pelajaran yang dilakukan murid. Sedangkan untuk menilai terhadap proses bagaimana murid memahami bahan pelajaran yang diberikan, dapat dilakukan dengan jalan memberikan soal-soal yang berkaitan dengan pelajaran yang telah berlangsung. Berdasarkan definisi mengajar di atas, dapat disimpulkan bahwa mengajar pada hakikatnya adalah suatu proses mengatur, mengorganisasikan lingkungan yang ada disekitarnya sehingga siswa dapat menumbuhkan dan mendorong siswa melakukan proses belajar mengajar. Serta adanya proses memberikan bimbingan atau bantuan kepada siswa dalam melakukan belajar mengajar.
Sedangkan definisi dari efektivitas mengajar adalah suatu aktivitas guru di dalam proses pengajaran yang mencapai tujuan pembelajaran. Efektivitas mengajar dapat dilihat secara aktif, baik fisik, mental, maupun sosial dalam proses pembelajaran, di samping menunjukkan kegairahan belajar yang tinggi, semangat belajar yang besar dan rasa percaya pada diri sendiri. Selain itu efektivitas mengajar sama juga dikatakan proses pengajaran dan pembelajaran yang berhasil yang dilihat dari cara guru menyampaikan proses pengajaran dengan berbagai strategi pengajaran kepada siswa dengan melihat dari kualitas peserta didik. Dengan demikian efektivitas mengajar adalah tolok ukur sampai sejauh mana keberhasilan antara hasil yang dicapai siswa dalam kaitannya dengan tahapan pelaksanaan pengajaran.
D.      KERANGKA BERFIKIR
Kepemimpinan merupakan suatu kemampuan yang berasal dari sifat-sifat yang dibawa sejak lahir yang terdapat pada diri seorang pemimpin. Menurut konsep ini kepemimpinan diartikan sebagai .traits within the individual leader.. Seorang pemimpin dapat menjadi pemimpin karena memang dilahirkan sebagai pemimpin dan bukan karena dibuat atau dididik untuk itu (leaders were born not made). Akan tetapi konsep tersebut berubah sesuai dengan perkembangan zaman. Kini konsep kepemimpinan banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor dengan upaya untuk dapat mewujudkan tujuan organisasi. Upaya untuk mewujudkan tujuan tersebut sangatlah berkaitan dengan kepemimpinan yang diterapkan. Konsep kepemimpinan berkaitan dengan kompetensi dan gaya yang diterapkan oleh pemimpin. Gaya kepemimpinan menunjukkan bahwa kita berurusan dengan kombinasi bahasa dan tindakan. Pola bahasa dan tindakan yang bagaimana yang dapat digunakan kepala sekolah untuk membantu guru mencapai tujuan pengajaran yang diinginkan. Kepala sekolah dituntut untuk senantiasa meningkatkan efektivitas kinerja guru. Sehingga dengan kepemimpinan yang diterapkan kepala sekolah akan mampu memberdayakan guru-guru untuk melaksanakan proses pengajaran dengan baik yang sesuai dengan tujuan yang ditetapkan. Gaya kepemimpinan meliputi : Otokratis, Laissez-Faire dan Demokratis.
Kepala sekolah menerapkan gaya kepemimpinan otokratis dengan cara tidak memberikan kebebasan kepada guru untuk turut ambil bagian dalam memutuskan persoalan dan tidak diberi kesempatan untuk mengeluarkan pendapat pada waktu musyawarah. Sehingga guru harus mengikuti peraturan yang dibuat sendiri oleh kepala sekolah. Dalam hal ini tentu saja efektivitas mengajar guru tergantung kepada kepala sekolah. Gaya kepemimpinan Laissez-Faire, kepala sekolah tidak memberikan arahan kepada guru dalam melakukan pekerjaan. Guru diberikan kebebasan tanpa adanya dukungan dan arahan dari kepala sekolah. Sehingga pekerjaan guru menjadi tidak terarah dan kacau. Sedangkan gaya kepemimpinan Demokratis, kepala sekolah memberikan kebebasan kepada guru untuk membuat program rencana pengajaran dengan cara mengadakan konsultasi dan musyawarah dengan tujuan supaya perencanan pengajaran yang dibuat guru dapat terarah dan sesuai dengan tujuan yang diinginkan.
E.       HIPOTESIS
Sesuai dengan masalah yang akan diteliti, dalam uraian teori dan kerangka berfikir yang dikembangkan maka hipotesis dalam skripsi ini dapat dirumuskan sebagai berikut : Ho = Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kepemimpinan kepala sekolah dengan efektivitas mengajar guru.
Ha = Terdapat hubungan yang signifikan antara kepemimpinan kepala sekolah dengan efektivitas mengajar guru.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A.      TUJUAN PENELITIAN
Tujuan diadakan penelitian ini antara lain untuk Mengetahui tingkat hubungan antara kepemimpinan kepala sekolah dengan tingkat efektivitas mengajar guru di Smk Teladan Rantau Prapat Kabupaten Labuhan Batu, Provinsi Sumatera Utara.
B.       POPULASI
Populasi Penelitian. Populasi yang dimaksud adalah seluruh guru yang ada di SMK Teladan Rantau Prapat Kabupaten Labuhan Batu, Provinsi Sumatera Utara yang berjumlah 50 orang.
C.      VARIABEL PENELITIAN
Variabel dalam penelitian ini penulis bagi menjadi : (1)Independent Variabel : Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah (Variabel X). (2) Dependent Variabel : Efektivitas Mengajar Guru ( Variabel Y)
D.      INSTRUMEN PENGUMPULAN DATA
(1)      Definisi Konseptual. Definisi konseptual kepemimpinan adalah kemampuan yang dimiliki seorang pemimpin untuk membimbing, mengarahkan dan menggerakkan bawahannya untuk mencapai tujuan organisasi. Definisi konseptual efektivitas mengajar adalah tolok ukur sampai sejauh mana keberhasilan kelompok orang berinteraksi dalam suatu sistem, untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang baru sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya, dan merupakan suatu usaha mengorganisasi lingkungan dalam hubungannya dengan anak didik dengan menggunakan bahan pengajaran yang dapat menimbulkan proses belajar mengajar sehingga kualitas pendidikan akan efektif dan efisien.
(2)      Definisi Operasional. Definisi operasional kepemimpinan adalah kompetensi yang dimiliki kepala sekolah yang berkaitan dengan mengelola seluruh kegiatan proses belajar mengajar terhadap guru dan lainnya untuk bekerjasama dalam rangka mencapai tujuan yang diinginkan.
(3)      Definisi operasional efektivitas mengajar adalah ukuran yang dijadikan oleh guru untuk mencapai tingkat perubahan yang diperoleh oleh siswa dalam proses belajar dan keberhasilan guru dalam mengajar yang berkaitan dengan alokasi waktu yang digunakan sehingga mengarah kepada tujuan instruksional.
E.       TEKNIK PENGUMPULAN DATA
Metode yang penulis gunakan dalam penyusunan skripsi ini yaitu menggunakan rumus korelasi product moment dengan tujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara kepemimpinan kepala sekolah dengan efektivitas mengajar guru. Untuk mendapatkan data yang diperlukan, penulis menggunakan : (1)Penelitian lapangan (Field Research) yaitu dengan cara penulis mengadakan penelitian secara langsung ke lokasi, penelitian ini dimaksud guna mengumpulkan data yang diperlukan dalam penyusunan laporan proposal penelitian ini. Untuk mengidentifikasi seberapa pentingnya hubungan antara kepemimpinan kepala sekolah dengan efektivitas mengajar guru, akan diberikan angket yang berbentuk skala sikap. Selain itu penulis akan melakukan wawancara dengan kepala Smk Teladan Rantau Prapat Kabupaten Labuhan Batu, Provinsi Sumatera Utara.
Adapun teknik pengumpulan data yang penulis gunakan untuk pengumpulan meliputi yaitu (1)Angket. Angket adalah pengumpulan data dengan cara menyebarkan beberapa pernyataan kepada guru-guru untuk diisi, hasilnya akan dianalisis. Angket ini bertujuan untuk menyaring data mengenai hubungan antara kepemimpinan kepala sekolah dengan efektivitas mengajar guru. Angket yang penulis sebar akan diolah dengan menggunakan langkah-langkah sebagai berikut : (1) Editing ; maksudnya meneliti satu persatu kelengkapan pengisian dan kejelasan penulis, dalam tahap ini dilakukan pengecekan terhadap kelengkapan dan kebenaran pengisian dan kejelasan penulisannya. (2)Tabulasi ; maksudnya bertujuan mendapatkan gambaran frekuensi dalam setiap item yang penulis kemukakan. Untuk itu dibuatlah suatu tabel yang mempunyai kolom setiap kuisioner, sehingga jawaban yang diisi dengan jelas dan saling berhubungan. (2) Wawancara. Wawancara adalah suatu alat dalam pengumpulan informasi dengan mengajukan sejumlah pertanyaan secara lisan yang telah disiapkan oleh peneliti dan dijawab secara lisan pula oleh terwawancara. Wawancara ini dimaksudkan untuk menambah data yang diperlukan.


BAB IV
HASIL PENELITIAN
A.      DESKRIPSI DATA
Salah satu teknik pengumpulan data yang dilakukan penulis dalam penyusunan proposal penelitian  ini adalah melalui angket. Penulis menyebarkan angket yang berjumlah 50 item pernyataan terdiri dari 25 item pernyataan variabel X kepemimpinan kepala sekolah dan 25 item pernyataan variabel Y efektivitas mengajar guru dan disebarkan kepada 50 orang guru yang menjadi responden di SMK Teladan Rantau Prapat Kabupaten Labuhan Batu, Provinsi Sumatera Utara. Untuk pengelolaan data ini penulis menempuh langkah-langkah sebagai berikut: (1) Memeriksa setiap lembar jawaban angket. (2)Memberi nomor lembaran jawaban angket (3) Memberi skor nilai pada setiap item dalam dua komponen.
Adapun skor nilai variabel X dan Y dapat dilihat melalui lampiran. Tabulasi nilai angket dari kedua komponen tersebut yang diperoleh dari 50 responden akan digabungkan menjadi satu, sehingga dapat terlihat dengan jelas perbedaan setiap skor nilai dari kedua komponen yang ada pada setiap itemnya.
Untuk mengetahui nilai rata-rata kepemimpinan kepala sekolah yang akan memberikan gambaran umum dari suatu pengamatan maka penulis menggunakan rumus Mx = S X = 4282 = N 50 Dengan demikian diketahui nilai rata-rata kepemimpinan kepala sekolah adalah sedangkan nilai tertingginya dan nilai terendahnya . Data tingkat efektivitas mengajar guru bila dikelompokkan dari nilai tertinggi sampai nilai terendah rata-ratanya dapat diketahui dengan menggunakan rumus : My = S Y = 4406 = N 50. Dengan demikian nilai rata-rata efektivitas mengajar guru adalah , dengan nilai tertinggi dan nilai terendah .
B.       ANALISA DAN INTERPRETASI DATA
Dalam melakukan uji hipotesa, skripsi ini menggunakan rumus korelasi product moment seperti yang sudah dijelaskan pada bab terdahulu tujuan penggunaan rumus ini untuk mengetahui seberapa besar tingkat atau kekuatan korelasi antara variabel X dan variabel Y. Selanjutnya akan dilakukan penghitungan untuk memperoleh angka indeks korelasi (rxy) dengan terlebih dahulu menyiapkan tabel kerja atau tabel penghitungannya.
Dari perhitungan di atas dapat diperoleh nilai koefisien korelasi antara skor kepemimpinan kepala sekolah dengan efektivitas mengajar guru adalah 0,74. Dari angka tersebut dapat dikatakan bahwa nilai koefisien korelasi yang diperoleh dari penelitian mengenai hubungan kepemimpinan kepala sekolah dengan efektivitas mengajar guru adalah 0,74. Angka tersebut terdapat diantara 0,70-0,90, yang menunjukkan bahwa antara variabel X dan variabel Y terdapat korelasi yang tinggi.
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa ada hubungan yang signifikan dengan korelasi tingkat tinggi antara kepemimpinan kepala sekolah dan efektivitas mengajar guru di SMK Teladan Rantau Prapat Kabupaten Labuhan Batu, Provinsi Sumatera Utara.
Pernyataan tentang adanya hubungan antara dua variabel yang diteliti tersebut perlu diadakan pengujian lagi untuk membuktikan apakah hubungan antara kedua variabel itu merupakan hubungan yang sebenarnya atau bukan hubungan yang sebenarnya. Pengujian ini bisa dilakukan dengan melihat tabel minimum yang diperlukan bagi suatu koefisien korelasi pada taraf signifikan tertentu. Bila ro lebih besar dari rt berarti hubungan tersebut signifikan. Sebaliknya bila ro lebih kecil dari rt baik pada taraf signifikan 5 % maupun taraf signifikan 1 % berarti tidak signifikan, dengan terlebih dahulu mencari derajat bebas (db) atau degrees of freedom (df) Diketahui r hitung (ro) yang diperoleh di atas adalah 0,74 sedangkan untuk menentukan r tabel (rt) terlebih dahulu dicari db/df = N-nr, yaitu 50-2 = 48. Dengan df 48, dikonsultasikan dengan tabel nilai r baik pada taraf signifikan 5 % maupun taraf signifikan 1 %, diperoleh r pada tabel rt sebagai berikut : (1) Pada taraf signifikan 5 % r tabel = 0,273 (2) Pada taraf signifikan 1 % r tabel = 0,354.
Ternyata rxy atau ro pada taraf signifikan 5 % dan pada taraf 1 % lebih besar dari rt ( 0,74 > 0,273 dan 0,354), maka pada taraf signifikan 5 % dan 1 % hipotesa nol (Ho) ditolak karena tidak teruji kebenarannya, maka hipotesa alternatif (Ha) diterima dan ini berarti pada taraf signifikan 5 % dan 1 % memang terdapat korelasi yang signifikan antara kedua variabel tersebut. Selanjutnya untuk mengetahui seberapa besar kontribusi (sumbangan) variabel X dalam menunjang keberhasilan variabel Y, maka harus dihitung terlebih dahulu suatu koefisien yang disebut coefisien of determination (koefisien penentuan) dengan rumus sebagai berikut : KD = r² x 100 % = 0,74 x 100 % = 0,547 x 100 % = 54,7 % Dari hasil penelitian di atas dapat diketahui bahwa kontribusi kepemimpinan kepala sekolah dalam mempengaruhi efektivitas mengajar guru sebesar 54,7 % maka dibulatkan menjadi 55 %.
Berdasarkan hasil penelitian di atas, menyatakan bahwa .terdapat hubungan antara kepemimpinan kepala sekolah dengan efektivitas mengajar guru.. Dan mempunyai pengaruh sebesar 55 % antara kepemimpinan kepala sekolah dengan efektivitas mengajar guru.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi, Dr. .Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan.. Jakarta : Bumi Aksara. Cet .XIII.1997
Bahri, Djamarah, Syaiful, Drs. .Strategi Belajar Mengajar.. Jakarta : PT. Rineka Cipta. 2002. Cet. II.
Burhanuddin. .Analisis Administrasi Manajemen dan Kepemimpin Pendidikan.. Jakarta : Bumi Aksara . 1994. Cet. I.
Chabib, Thoha, M, Drs, M.A. .Teknik Evaluasi Pendidikan.. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada. 1994. Cet.II
Dunne, Richard. .Pembelajaran Efektif.. Jakarta : PT. Gramedia Widiasarana Indonesia. 1996.
Hani, Handoko, T. .Pengantar Manajemen.. Jogyakarta : BPFE. Edisi ke-2. 1986
Margono, S, Drs. .Metodologi Penelitian Pendidikan.. Jakarta : Rineka Cipta. 2004. Cet. IV.
McMahon, Walter, W. .Sistem Informasi Manajemen Berbasis Efisiensi.. Jakarta : Logos. 2003. Cet.I
Mulyasa, E, DR, M.Pd. .Manajemen Berbasis Sekolah.. Bandung : Rosdakarya. 2004. Cet. VII.
Idochi, Anwar, Moch, Prof, Dr, M.Pd. .Administrasi Pendidikan dan Biaya Pendidikan.. Bandung : Alfabeta. Cet.II. 2004
Nasution, S, Prof, Dr, M.A. .Didaktik Asas-asas Mengajar.. Jakarta : Bumi Aksara. 2004. Cet III
Nazir, Muhammad, Ph. D. .Metode Penelitian.. Jakarta : PT Ghalia Indonesia. 1999. Cet. IV
Poerwanto, Ngalim, M, Drs, MP. .Administrasi dan Supervisi Pendidikan.. Bandung : PT Remaja Rosdakarya. 2003. Cet.XII
Rahman, Saleh, Abdul, Drs. .Psikologi Organisasi.. Ciputat : Out Line Mata Diklat
Robbin, Stephen. .Perilaku Organisasi.. Jakarta : PT Prehallindo. 2002. Jilid 2. Edisi VIII
Sudjana, Nana. .Teknologi Pengajaran.. Bandung : PT Sinar Baru Algensindo. 2001.Cet. III
Sudijono, Anas, Prof, Drs. .Pengantar Statistik Pendidikan.. Jakarta : Raja Grafindo Persada. 2003. Cet. XIII
Sunyoto, Munandar, Ashar. .Psikologi Industri dan Organisasi.. Jakarta : Universitas Indonesia. 2001
Uzer, Usman, M. .Menjadi Guru Profesional.. Bandung : Rosdakarya. 1992. Cet IV
Wayne, Pace, R. .Komunikasi Organisasi.. Bandung : Remaja Rosdakarya. 2002. Cet. IV





Tulisan Paling Dicari