Kamis, 04 Oktober 2012

FILSAFAT DAN TEORI MANAJEMEN PENDIDIKAN


FILSAFAT DAN TEORI MANAJEMEN PENDIDIKAN
OLEH : J. Badruzaman, A. Khatib, dan Rizal Fauzi
I. FILSAFAT PENDIDIKAN
Pengertian Filsafat Pendidikan
Kata filsafat atau falsafah, berasal dari bahasa Yunani. Kata ini berasal dari kata philosophia yang berarti cinta pengetahuan. Terdiri dari kata philos yang berarti cinta, senang, atau suka dan kata sophia yang berarti pengetahuan, hikmah, atau kebijaksanaan. Hasan Shadily mengatakan bahwa filsafat menurut arti bahasanya adalah cinta akan kebenaran.
Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa filsafat adalah cinta kepada ilmu pengetahuan atau kebenaran, suka kepada hikmah atau kebijaksanaan. Jadi orang yang berfilsafat adalah orang yang mencintai kebenaran, ilmu pengetahuan, ahli hikmah dan bijaksana.
Orang yang ahli dalam berfilsafat disebut philosopher, atau filsuf dalam bahasa Arab. Dan pemikiran secara filsafat sering diistilahkan dengan pemikiran filosofis.
Dalam pemikiran yang lebih luas Harold Titus mengemukakan beberapa pengertian filsafat sebagai berikut:
  1. filsafat adalah sekumpulan sikap dan kepercayaan terhadap kehidupan dan alam yang biasanya diterima secara kritis.
  2. Filsafat adalah suatu usaha untuk mendapatkan gambaran secara keseluruhan.
  3. Filsafat adalah analisa logis dari bahasan serta penjelasan tentang arti konsep.
  4. Filsafat adalah proses kritik atau pemikiran terhadap kepercayaan dan sikap yang sangat kita junjung tinggi.[1]
Menurut Harun Nasution, intisari dari filsafat ialah berpikir menurut tata tertib (logika) dengan bebas dalam artian tidak terikat pada tradisi, dogma dan agama, dan dengan sedalam-dalamnya sehingga sampai ke dasar-dasar persoalan.[2]
Sebenarnya, pemikiran yang bersifat falsafi didasarkan atas pemikiran yang bersifat spekulatif, maka nilai-nilai kebenaran yang dihasilkannya juga tak terhindar dari kebenaran yang bersifat spekulatif. Hasilnya akan tergantung dari pandangan para filosof itu masing-masing.[3]
Pola dan sistem berpikir filosofis dilaksanakan dalam ruang lingkup yang menyangkut bidang-bidang sebagai berikut:
  1. Cosmologi, yaitu pemikiran dalam permasalahan yang berhubungan dengan alam semesta, ruang dan waktu, kenyataan hidup manusia, proses kejadian dan perkembangannya, dan sebagainya.
  2. Ontologi, yaitu pemikiran tentang asal-usul kejadian alam semesta, dari mana dan ke arah mana proses kejadiannya. Pemikiran ontologis pada akhirnya akan menentukan suatu kekuatan yang menciptakan alam semesta ini, apakah sang pencipta itu satu zat (monisme), ataukah dua (dualisme), ataukah banyak (pluralisme).[4]
  1. Filsafat dalam Masalah Pendidikan
Pendidikan merupakan masalah hidup dan kehidupan manusia. Proses pendidikan berada dan berkembang bersama proses perkembangan hidup dan kehidupan manusia, dan bahkan keduanya adalah proses yang satu. Seluruh proses hidup dan kehidupan manusia adalah proses pendidikan. Segala pengalaman sepanjang hidupnya merupakan dan memberikan pengaruh pendidikan baginya.[5] Dalam artinya yang lebih sempit, pendidikan hanya mempunyai fungsi yang terbatas, yaitu memberikan dasar-dasar dan pandangan hidup pada generasi yang sedang tumbuh, yang dalam prakteknya identik dengan pendidikan formal di sekolah dan dalam situasi dan kondisi serta lingkungan belajar yang serba terkontrol.
Dengan pengertian pendidikan yang luas, berarti bahwa masalah kependidikan pun mempunyai ruang lingkup yang luas pula, yang menyangkut seluruh aspek hidup dan kehidupan manusia. Diantara permasalahan pendidikan tersebut terdapat masalah yang sederhana yang menyangkut praktek dan pelaksanaan sehari-hari, tetapi banyak diantaranya yang menyangkut masalah yang mendasar dan mendalam, sehingga memerlukan bantuan ilmu-ilmu lain dalam memecahkannya. Bahkan pendidikan juga menghadapi permasalahan yang tidak mungkin dijawab dengan menggunakan analisa ilmiah semata, tetapi memerlukan analisa dan pemikiran yang mendalam, yaitu analisa filsafat.
Sebagai contoh, beberapa masalah kependidikan yang memerlukan analisa filsafat dalam memahami dan memecahkannya, antara lain:
  1. Masalah pendidikan pertama yang mendasar adalah tentang apakah hakikat pendidikan itu. Mengapa pendidikan harus ada dan merupakan hakikat hidup manusia. Dan apa sebenarnya hakikat manusia itu, dan bagaimana hubungannya antara pendidikan dengan hidup dan kehidupan manusia.
  2. Siapakah hakikatnya yang bertanggung jawab terhadap pendidikan itu, dan sampai dimana tanggung jawab tersebut. Bagaimana hubungan tanggung jawab antara keluarga, masyarakat, dan sekolah terhadap pendidikan, dan bagaimana tanggung jawab pendidikan tersebut setelah manusia dewasa dan sebagainya.
  3. Apakah hakikat pribadi manusia itu. Manakah yang lebih utama untuk dididik; akal, perasaan ataukah kemauan, pendidikan jasmani ataukah mental, pendidikan skill ataukan intelektual, ataukah kesemuanya.[6]
Contoh-contoh problematika pendidikan tersebut merupakan permasalahan pendidikan yang  dalam pemecahannya memerlukan usaha-usaha pemikiran yang mendalam dan sistematis, atau analisa filsafat.
Sedemikian pentingnya hubungan antara pendidikan dengan filsafat pendidikan, sebab ia menjadi dasar yang menjadi tumpuan suatu sistem pendidikan. Karena ia berfungsi sebagai pedoman bagi usaha-usaha perbaikan, peningkatan kemajuan, dan sebagai dasar yang kokoh bagi tegaknya sistem pendidikan.
Dengan demikian, filsafat pendidikan menyumbangkan analisanya kepada ilmu pendidikan tentang hakikat masalah yang nyata dan rasional yang mengandung nilai-nilai dasar yang dijadikan landasan atau petunjuk dalam proses kependidikan.
Tugas filsafat adalah melaksanakan pemikiran rasional analisis dan teoritis secara mendalam dan mendasar melalui proses pemikiran yang sistematis, logis dan radikal (sampai ke akar-akarnya), tentang problem hidup dan kehidupan manusia. Produk pemikirannya merupakan pandangan dasar yang berintikan kepada “trichotomi” (tiga kekuatan rohaniah pokok) yang berkembang dalam pusat kemanusiaan manusia yang meliputi:
  1. Individualitas: kemampuan mengembangkan diri sebagai makhluk pribadi.
  2. Sosialitas: kemampuan mengembangkan diri selaku anggota masyarakat.
  3. Moralitas: kemampuan mengembangkan diri selaku pribadi dan anggota masyarakat berdasarkan moralitas.
Ketiga kemampuan pokok rohaniah di atas berkembang dalam pola hubungan tiga arah yang dinamakan “trilogo hubungan”, yaitu:
  1. Hubungan dengan Tuhan, karena ia sebagai makhluk ciptaan-Nya.
  2. Hubungan dengan masyarakat, karena ia sebagai masyarakat.
  3. Hubungan dengan alam sekitar, karena ia makhluk Allah SWT yang harus mengelola dan memanfaatkan kekayaan alam yang ada di bumi ini.
Konsep pemikiran secara mendalam dan mendasar seperti yang dilakukan oleh filsafat tersebut sesuai dengan kehendak Allah SWT dalam al-Qur’an:
Allah memberikan hikmah kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Dan siapa saja yang diberi hikmah (mampu berfikir filsafat) maka sesungguhnya ia telah diberi kebaikan yang banyak”. (Q.S: Al-Baqarah: 269)
  1. Metode Berpikir Filosofis dalam Filsafat Pendidikan Islam
Filsafat  dalam memecahkan problema pendidikan dapat menggunakan metode-metode antara lain[7]:
  1. Metode spekulatif dan kontemplatif yang merupakan metode utama dalam setiap cabang filsafat. Dalam Islam ini disebut dengan tafakkur. Baik kontemplatif maupun tafakkur, adalah berpikir mendalam dan dalam situasi yang tenang untuk mendapatkan kebenaran tentang hakikat sesuatu yang dipikirkan. Dan oleh karenanya berkaitan dengan masalah-masalah yang abstrak, seperti hakikat hidup, iman, takdir, dan sebagainya.
  2. Pendekatan normatif. Norma atau nilai, juga berarti aturan atau hukum-hukum. Pendekatan normatif dimaksudkan mencari dan menetapkan aturan-aturan dalam kehidupan nyata. Objeknya adalah yang berkaitan dengan tingkah laku dan amal perbuatan.
  3. Analisa konsep, yang disebut analisa bahasa. Konsep berarti tangkapan atau pengertian seseorang terhadap suatu objek. Pengertian seseorang selalu berkaitan dengan bahasa, sebagai alat untuk mengungkapkan pengertian tersebut.
  4. Pendekatan historis. Yaitu mengambil pelajaran dari peristiwa dan kejadian di masa lalu. Peristiwa sejarah berguna untuk memberikan petunjuk sdalam membina masa depan. Dengan demikian peristiwa sejarah banyak berguna untuk pendidikan.
  5. Pendekatan ilmiah terhadap masalah aktual. Usaha mengubah keadaan atau nasib, tidak mungkin bisa terlaksana kalau seseorang tidak memahami permasalahan-permasalahan aktual yang dihadapinya. Pendidikan pada hakikatnya adalah usaha untuk mengubah dan mengarahkan keadaan atau nasib tersebut. Dan ini merupakan problema pokok filsafat pendidikan.
  6. Pendekatan komprehensif atau terpadu, yaitu memadukan antara sumber naqli, aqli, dan imani eperti yang dikembangkan oleh al-Ghozali.
  7. Pendekatan deduktif. Berpikir dengan metode ini dimulai dari realita yang bersifat umum, guna mendapat kesimpulan-kesimpulan tertentu yang khusus.
  8. Pendekatan induktif. Proses berpikir ini adalah penyelidikan berdasarkan eksperimen yang dimulai dari objek yang khusus untuk mendapatkan kesimpulan yang bersifat umum.
Demikian beberapa pendekatan filosofis yang mungkin digunakan dalam memecahkan problematika pendidikan. Adapun pendekatan mana yang lebih efektif dan efisien adalah tergantung kepada sifat, bentuk, dan ciri khusus permasalahan yang dihadapi.
  1. Peranan dan tugas Fisafat Pendidikan Islam
Filsafat pendidikan Islam sebagai bagian atau komponen dari suatu sistem, ia memegang dan mempunyai peranan tertentu pada sistem dimana ia merupakan bagiannya. Sebagai cabang ilmu pengetahuan, maka ia berperan dalam pengembangan ilmu pengetahuan yang menjadi induknya. Filsafat pendidikan Islam dan sekaligus juga sebagai bagian dari ilmu Pendidikan. dengan demikian, filsafat pendidikan Islam berperan dalam mengembangkan filsafat Islam, dan memperkaya filsafat Islam dengan konsep-konsep dan pandangan-pandangan dalam bidang kependidikan. Dan Ilmu Pendidikan pun akan dilengkapi dengan teori-teori kependidikan yang bersifat filosofis islami.
Secara praktis (dalam praktiknya), filsafat pendidikan Islam banyak berperan dalam memberikan alternatif-alternatif pemecahan berbagai macam, problem yang dihadapi pendidikan Islam.
  1. Pertama-tama filsafat pendidikan Islam, menunjukan problem yang dihadapi oleh pendidikan Islam, sebagai hasil dari pemikiran yang mendalam, dan berusaha untuk memahami duduk masalahnya. Dengan analisa filsafat, maka filsafat pendidikan Islam bisa menunjukan alternatif-alternatif pemecahan permasalahan tersebut, yang mana paling efektif, maka dilaksanakan alternatif tersebut dalam praktek pendidikan.
  2. Filsafat pendidikan Islam, memberikan pandangan tertentu tentang manusia (menurut Islam). Pandangan tentang hakekat manusia tersebut berkaitan dengan tuujuan hidup manusia dan sekaligus juga merupakan tujuan Pendidikan menurut Islam. Filsafat pendidikan berperan menjabarkan tujuan umum pendidikan Islam tersebut dalam bentuk-bentuk tujuan khusus yang operasional. Dan tujuan yang opersional ini berperan untuk mengarahkan secara nyata gerak dan aktivitas pelaksanaan pendidikan.
  3. Filsafat pendidikan dengan analisanya terhadap hakikat hidup dan kehidupan manusia, berkesimpulan bahwa manusia mempunyai potensi pembawaan yang harus ditumbuhkan dan diperkembangkan. Filsafat pendidikan Islam menunjukan bahwa potensi pembawaan manusia tidak lain adalah sifat-sifat Tuhan atau al ama’al husna, dan dalam mengembangkan sifat-sifat Tuhan tersebut dalam kehidupan konkret, tidak boleh mengarah kepada menodai dan merendahkan nama dan sifat tersebut. Hal ini akan memberikan petunjuk pembinaan kurikulum yang sesuai dan pengaturan lingkungan yang diperlukan.
  4. Filsafat pendidikan Islam, dalam analisanya terhadap masalah-masalah pendidikan Islam masa kini yangg dihadapinya, akan dapat memberikan informasi apakah proses pendidikan Islam yang berjalan selama ini mampu mencapai tujuan pendidikan Islam yang ideal atau tidak. Dapat merumuskan di mana letak kelemahannya, dan demikian bisa memberikan alternatif-alternatif perbaikan dan pengembangannya.
Dengan demikian peranan filsafat pendidikan Islam, menuju kedua arah, yaitu pertama ke arah pengembangan konsep-konsep filosofis dari pendidikan Islam, yang secara otomatis akan menghasilkan teori-teori baru dalam ilmu pendidikan Islam, dan kedua ke arah perbaikan dan pembaharuan praktek dan pelaksanaan pendidikan Islam.
  1. II. TEORI MANAJEMAN PENDIDIKAN
Teori  manajemen dari masa ke masa mengalami perkembangan baik cara pendekatan teoritis dan impelementasinya serta dari setiap perkembangan teori memiliki kelemahan dan kelebihan.
Perkembangan teori manajemen diantaranya, yaitu:
  1. Teori Klasik
  2. Teori Neo-Klasik
  3. Teori Manajemen
  1. 1. Teori Klasik
Asumsi teori klasik:
Bahwa para pekerja atau manusia itu sifatnya rasional, berfikir logis, dan kerja merupakan suatu yang diharapkan. Oleh karen itu teori klasik berangkat dari premis bahwa organisasi bekerja dalam proses yang logis dan rasional dengan pendekatan ilmiah dan berlangsung menurut struktural atau anatomi organisasi.
Para pelopor teori klasik menjelaskan pendapatnya tentang teori yang berkaitan dengan teori klasik, diantarannya, sebgai berikut:
Frederik W. Taylor (1856-1915)
Pendekatan ilmiah ini dipandang bahwa yang menjadi sasaran manajemen
adalah mendapatkan kemakmuran maksimum bagi pengusaha dan karyawannya.
Untuk manajemen harus melaksanakan prinsip-prinsip diantaranya:
  1. Perlu dikembangkan ilmu dari setiap tugas (pedoman gerak,implementasi kerja yang standar dan iklim kerja yang layak)
  2. Pemeilihan karyawan yang tepat sesuai dengan persyaratan kerja
  3. Perlunya pelatihan dan pemberian rangsangan
  4. Perlunya dilakukan penelitian-penelitian dan percobaan-percobaan
Gilbreth (1911)
Prinsip studi waktu, dinyatakan bahwa semua usaha yang proruktif harus diukur dengan studi waktu secara teliti (time and motion study) ukuran standar harus diberikan semua pekerjaan.
Gulick dan Urwick (1930)
Pelpor ini mengeluarkan pendapatnya tentang pedoman manajemen yang populer dengan akronim POSDCORB (Planning, Organizing, Staffing, Directing, Coordinating, Reporting, budgetting) sebagai kegiatan manajerial dan merupakan proses manajemen. Perinsip-prinsip pokok menurut Fayol adalah :
  1. Kesatuan komando, dianggap penting karena pembagian tugas dalam organisasi sudah sangan spesialis.
  2. Wewenang harus dapat didelegasikan
  3. Inisiatif harus dimiliki oleh setiap manajer
  4. Adanya solidaritas kelompok
Prinsip-prinsip ini menurut Fayol tidak bersifat kaku seperti  halnya Taylor, Menyarankan bahwa pelaksanaan prinsip-prinsip tersebut bersifat lunak.
Menurut Weber birokrasi merupakan usaha untuk menghilangkan tradisi organisasi yang membuat keputusan secara emosional, atau berdasarkan ikatan kekeluargaan sehingga mengakibatkan organisasi tidak efektif.
Meskipun diakui bahwa birokrasi memiliki keunggulan-keunggulan dalam mencapai efesiensi organisasi, tetapi terdapat beberapa kelemahan, diantara lain:
  1. Menimbulkan kecenderungan untuk merengsang dan mengembangkan cara berfikir yang konformitas
  2. Rutinitas yang membosankan
  3. Ide-ide inovatif tidak berkembang, karena kejenuhan akibat padatnya pesan dan alur yang harus dilalui
  4. Tidak memperhitungkan adanya organisasi informal yang seringkali berpengaruh terhadap organisasi formal
Fillley, Kerr dan hous (1976)
Kelemahan-kelemahan teori klasik secara garis besar dikemukakn sebagai berikut:
  1. Teori kelasi adalah teori yang terikat waktu. Teori ini cocok diterapkan pada abad dua puluhan, karna motif pekerja waktu itu terutama memenuhi kebutuhan fisiologis.
  2. Teori klasik mempunyai ciri-ciri deterministik. Teori sangat menekankan pada prinsip-prinsip manajemen dan tidak memperhitungkan berbagai dimensi dalam manajemen seperti motivasi, pengambilan keputusan, dan hubungan informal
  3. Teori ini merumuskan merumuskan asumsi secara eksplisit. Malahan banyak asumsi yang lemah dan tidak lengakap secara implisif teori klasik itu. Antara lain: efesiensi hanya diukur oleh tingkat produktivitas yang hanya menyangkut penggunaan sumber secara ekonomis tanpa memperhitungkan faktor manusiawi.
2. Teori Neo-Klasik
Teori ini timbul sebagian karena pada para manajer terdapat berbagai kelemahan dengan pedekatan klasik. Pada kenyataannya manajer ada kesulitan dan menjadi frustasi karena orang tidak selalu mengikuti pada pola tingkah laku yang rasional. Dengan adanya perihal yang peralihan yang lebih berorientasi pada manusia deikenal dengan pendekatan perilaku sebagai ciri utama teoeri Neo-klasik.
Asumsi teori neo-klasik
Manusia itu adalah makhluk dengan mengaktualisasikan dirinya
Para pelopor teori Neo-klasik diantaranya, sebgai berikut:
Elton Mayo
Menurutnya dengan studi hubungan antara manusia, atau tingkah laku manusia dalam situasi kerja terkenal dengan studi Hawthorne.
Berdasarkan hasil studi ini ternyata kelompok kerja informal lingkungan sosial pekerja mempunyai pengaruh yang besar terhadap produktivitas.
Chester I. Barnard (1976)
Menyatakan:
  • bahwa hakikat organisasi adalah kerjasama, yaitu  kesediaan orang saling berkomunikasi dan berintraksi untuk mencapai tujuan bersama.
  • suatu manajemen dapat bekerja secara efesien dan tetap hidup jika tujuan organisasi dan kebutuhan perorangan yang bekerja pada organisasi itu dijaga seimbang.
Douglas McGregor
Pendapatnya bahwa manajemen akan mendapatkan manfaat besar bila ia menaruh perhatian pada kebutuhan sosial dan aktualisasi diri karyawan.
Dua teori yang di ungkapkannya Gregor yaitu Menejer menganut teori X dan Y
TEORI X YANG BERASUMSI IMPIKASI
Bahwa karyawan itu tidak menyukai kerja, tidak ada mabisi, tidak bertanggungjawab, menolak perubahan dan lebih baik dipimpin daripada memimpin Menejer Cenderung banyak mengarahkan, yang akibatnya tingkat kebergantungan karyawan kepada atasan sangat tinggi dan enggan bertindak
TEORI Y YANG BERASUMSI IMPLIKASINYA
Karyawan bersedia bekerja, bertanggungjawab, mampu mengendalikan diri, dan berpandangan luas serta kreatif Menejer cenderung mendorong karyawannya untuk berpartisipasi, ada kebebasan, dan bertanggungjawab.
Porte dan Lawyer (1968)
Mengutarakan teori ekspektasi yang berhasil membuat model motivasi dimana upaya (kekuatan dari motivasi dan energi) bergantung pada nilai imbalan (reward) ditambah energi yang dicurahkan dan probabilitas untuk mendapat imbalan
PRILAKU MANUSIA
Marwan Asri (1989)
Marwan Asri memperjelas dan menyikapi bahwa teori neo-klasik menangani tentang prilaku manusia dalam sebuah organisasi.
Perilaku manusia dapat dipengaruhi oleh 3 variabel, yaitu:
  1. Variabel individu, mencakup faktor kemampuan dan keterampilan mental, fisik, latar belakang keluarga, tingkat sosial, pengalaman, umur, dan jenis kelamin.
  2. Variabel organisasi, terdiri dari faktor sumber daya yang tersedia, gaya kepemimpinan , sistem imbalan, struktur organisasi dan disain pekerjaan, dan
  3. Variabel psikologi, terdiri atas beberapa faktor, berupa persepsi, sikap, kepribadian, proses belajar, dan motivasi.
Berdasarkan kajian tentang masalah perilaku, dapat disimpulkan
  1. Perilaku timbul karena suatu sebab
  2. Perilaku diarahkan untuk mencapai tujuan
  3. Perilaku yang dapat diamati dapat diukur
  4. Perilaku tidak langsung dapat diamati (misalnya berfikir) juga penting untuk mencapai tujua
  5. Perilaku bermotivasi.
3. Teori Modern
Pendekatan modern berdasarkan hall yang sifatnya situsional. Artinya orang menyesuaikan diri dengan situasi dihadapi dan mengambil keputusan sesuai dengan situasi dan kondisi lingkungan
Asumsi teori modern
Manusia itu berlainan dan berubah, baik kebutuhannya, reaksinnya, tindakannya yang semuanya bergantung pada lingkungan.  Selanjutnya manusia itu berkerja dalam suatu sistem untuk mencapai tujuan tertentu.
Pendekatan sistem terhadap manajemen berusah untuk memandang organisasi sebagai sebuah sistem yang menyatu dengan maksud tertentu yang terdiri atas bagian-bagian yang saling berhubungan.
Menurut Murdik dan Rossa, sistem organisasi itu sendiri dari individu, organisasi formal, organisasi informal, gaya kepemimpinan, dan perangkat fisik yang satu sama lain saling berhubungan.
Sistem diidentifikasikan mempunyai makna, yaitu:
  1. Terdiri dari bagian-bagian yang saling berkaitan satu dengan yang lainya
  2. Bagian-bagian yang saling berhubungan itu dapat berfungsi baik secara independen maupun secara bersama-sama
  3. Berfungsinya bagian-bagian tersebut ditunjukan untuk mencapai tujuan umum secara keseluruhan
  4. Suatu sistem yang terdiri dari bagian-bagian itu sendiri dalam suatu lingkungan yang kompleks.
Prinsip-prinsip yang digunakan dalam manajemen berdasarkan sistem, mencakup:
  1. Manajemen berdasarkan sasaran
  2. Manajemen berdasarkan teknik
  3. Manajemen berdasarkan struktur
  4. Manajemen berdasarkan orang
  5. Manajemen berdasarkan informasi
Di dalam pencapaian tujuan organisasi, menurut teori sistem harus didasarkan lima asumsi dan lima prinsip kerja, diantaranya adalah:
ASUMSI PRINSIP
1. Organisasi merupakan sistem terbuka 1. Service untuk lingkungan
2. Organisasi mencari prestasi maksimum 2. Prinsip optimasi
3. Tujuan organisasi sangat berjenis-jenis (bervariasi) 3. Multidimensional
4. Tujuan organisasi saling kebergantungan 4. Prinsip keharmonisan
5. Tujuan organisasi berubah-ubah 5. Prinsip pengurangan resiko
Secara lebih spesifik Ryans (1968) mengemukakan karakteristik sistem dibidang pendidikan, sebagai berikut:
  1. Berbagai subsistem, baik fasilitas fisik maupun sumber-sumber lain yang berhubungan dengan sub-sistem, merupakan komponen yang saling bergantungan dan saling berhubungan
  2. Kondisi yang perlu untuk terjadi interaksi antara elemen dari suatu sistem, adalah adanya jaringan informasi bersama (a common information network). Kemungkinan antara elemen itu sangat penting dalam menjamin berfungsinya suatu sistem sebagiai kesatuan (entity) yang terorganisasi dalam menjamin sistem itu untuk menghasilkan keluaran
  3. Berfungsinya sistem pendidikan pada dasarnya bergantung kepada berfungsinya kontrol terhadap aliran dan transformasi informasi antara elemen dalam sistem tersebut dan antara beberapa sisem yang ada di luar yang berpengaruh terhadap pendidikan.
  4. Pengelolaan informasi merupakan hal yang inherent dalam berfungsinya suatu sistem. Pengelolaan informasi adalah aktivitas pengamatan (sensing) penyaringan (filtering) pengaturan dan antrian (queuing), pengklasifikasian (classifying) penyimpanan sementara (temporary storing), pensintesisan (synthesizing), transformasi dan pengiriman informasi sehingga tujuan sistem tercapati.
Secara lebih spesifik Ryans (1968) mengemukakan karakteristik sistem di bidang pendidikan, sebagai berikut:
  1. Berbagai subsistem, baik fasilitas fisik maupun sumber-sumber lain yang berhubungan dengan subsistem, merupakan komponen yang saling bergantungan dan saling berhubungan.
  2. Kondisi yang perlu untuk terjadi interaksi antara elemen dari suatu sistem, adalah adanya jaringan informasi bersama (a common information network). Kemungkinan antara elemen itu sangat penting dalam menjamin berfungsinya suatu sistem sebagiai kesatuan (entity) yang terorganisasi dalam menjamin sistem itu untuk menghasilkan keluaran.
  3. Berfungsinya sistem pendidikan pada dasarnya bergantung kepada berfungsinya kontrol terhadap aliran dan transformasi informasi antara elemen dalam sistem tersebut dan antara beberapa sisem yang ada di luar yang berpengaruh terhadap pendidikan.
  4. Pengelolaan informasi merupakan hal yang inherent dalam berfungsinya suatu sistem. Pengelolaan informasi adalah aktivitas pengamatan (sensing) penyaringan (filtering) pengaturan dan antrian (queuing), pengklasifikasian (classifying) penyimpanan sementara (temporary storing), pensistensian (synthesizing), transformasi dan pengiriman informasi sehingga tujuan sistem tercapati.
Pendekatan sistem/analisis sistem (system analysis)
Pendekatan sistem berfungsi sebagai:
q     Problem solving
q     Decision making
Pendekatan/analisis sistem mencakup
  1. Menyadari adanya masalah
  2. Mengidentifikasi variabel yang relevan
  3. Menganalisis dan mensistentensiskan faktor-faktor
  4. Menentukan kesimpulan dalam bentuk program kegiatan.
Alasan pendekatan sistem sangat diperlukan oleh dunia pendidikan
  1. Lembaga-lembagan pendidikan telah menjadi sangat kompleks dan semakin sulit untuk dikelola. Cara-cara tradisional dalam pengelolaan/manajemen tidak mampu lagi atau kurang efektif untuk menyelesaikan tugas-tugas yang sesuai dengan perkembangan pendidikan.
  2. Prubahan-perubahan yang terjadi dalam organisasi pendidikan semakin lama semakin cepat. Banyak pengelola pendidikan mengalami kesulitan mengikuti perubahan dalam dunia pendidikan ini karena tidak mungkin mereka menjadi ahli dalam segala bidang, maka diperlukan pendekatan yang tepat memecahkan masalah semakin kompleks itu.
  3. Masalah langka para pengelola sistem dan satuan pendidikan yang profesional.  Pada dasarnya mereka berasal dari guru bukan manajer profesional dalam pendidikan. Dalam setuasi seperti ini  pendekatan sistem sangat membantu mereka dalam merencanakan, mengorganisasi, memimpin dan mengendalikan sistem pendidikan.
  4. Pertumbuhan pendidikan dan perkembangan yang relatif cepat dan disertai pertambahan anggaran yang  tidak sedikit, seringkali mengurangai kesadaran terdapat kekeliruan-kekeliruan dalam merencanakan dan mengelola pendidikan. Dengan dana yang kurang memadai, kunci keberhasilan kegiatan pendidikan akan banyak bergantung pada ketepan dan kemampuan untuk merencanakan dan mengelola kegiatan tersebut. Dalam hal ini pendekatan sistem dapat membantu perencanaan pendidikan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas penggunaan sumber-sumber untuk pendidikan.
kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pendidikan perlu ditingkatkan. Untuk itu diperlukan pendekatan sistem agar efektivitas dan efisiensi juga meningkatkan tanpa itu sulit terlaksana.
Keunggulan pendekatan sistem dalam mengelola pendidikan
  1. Misi, sasaran, dan tujuan lembaga pendidikan dapat dijabarkan lebih jelas.
  2. Program-program yang dirumuskan selalu diarahkan pada tujuan dan sasaran.
  3. Orientasi kegiatan diarahkan pada hasi akhir.
  4. Perencanaan dipandang sebagai bagian integral dan keseluruhan operasi lembaga atau organisasi pendidikan.
  5. Sumber-sumber  daya dapat dialokasikan dengan lebih efektif berdasarkan sekala prioritas yang disusun menurut besarnya sumbangan terhadap pencapaian tunjangan.
  6. Informasi yang diperlukan untuk perencanaan dan pengembalian keputusan dapat dirancang  dan dikelola secara terpadu.
  7. Segala kegiatan dapat difokuskan pada pencapaian sasaran, sehingga pemborosan dapat ditekan seminimal mungkin.
  8. Pemimpin pengelola dapat dinilai hasil pekerjaannya secara objektif, karena sasaran pekerjaannya jelas.
  9. Pengelolaan dapat mengembangkan kreativitasnya dalam batas kewenangan yang telah ditetapkan, sepanjang mereka tetap beriorientasi pada tujuan akhir.
  10. Akuntabilitas  dapat dirumuskan secara jelas dan operasional
  11. Umpan balik dapat diperoleh pada semua tingkat otoritas pendidikan, sehingga penyimpanan dalam usaha pencapaian tujuan dapat secara cepat diidentifikasi.
  12. Komunikasi antara komponen dapat terbina dengan lebih baik sehingga kesalahpahaman dapat dikurangi
  13. Pendelegasi kewenangan dan tanggung jawab dapat di laksanakan secara lebih baik.
DAFTAR PUSTAKA
Lodge, Reeport C., Philosophy of Education, (New York; Horer & Brothers, 1974).
Munawwaroh, Djunaedatul dan Tanenji, Filsafat Pendidikan; Perspektif Islam dan Umum, (Jakarta: UIN Jakarta Press, 2003), cet. 1.
Tafsir, Ahmad, Epistimologi untuk Ilmu Pendidikan Islam, (Bandung: Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Gunung Djati, 1995).
Fatah, Nanang, Landasan Manajemen Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosdakaria, 2008), cet.8

[1] Djunaedatul Munawwaroh dan Tanenji, Filsafat Pendidikan; Perspektif Islam dan Umum, (Jakarta: UIN Jakarta Press, 2003), cet. 1, h. 2.
[2] Djunaedatul, Filsafat Pendidikan, h. 3.
[3] Eksistensi kebenaran aliran filsafat yang satu berbeda dari eksistensi kebenaran aliran lainnya. Positivisme hanya mengakui kebenaran yang dapat ditangkap secara langsung atau tak langsung lewat indera. Idealisme hanya mengakui kebenaran dunia ide, yang materi itu hanya bayangan saja dari dunia ide. Islam klasik menurut tatapan kami berangkat dari eksistensi kebenaran bersumber dari wahyu.wahyu Allah merupakan eksistensi kebenaran yang mutlak. Lihat; Noeng Muhadjir, Ilmu Pendidikan; Filsafat dan Paradigma, dalam Ahmad Tafsir, Epistimologi untuk Ilmu Pendidikan Islam, (Bandung: Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Gunung Djati, 1995), h. 21.
[4] Djunaedatul, Filsafat Pendidikan, h. 4.
[5] Seperti dikemukakan oleh Lodge, bahwa dalam pengertian yang luas, pendidikan itu menyangkut semua pengalaman. Anak mendidik orangtuanya, murid mendidik gurunya. Selama yang kita katakan atau lakukan dikatakan dapat mendidik kita, maka begitu juga apa yang dikatakan dan dilakukan orang lain dapat mendidik kita. Dalam pengertian yang lebih luas, kehidupan ini adalah pendidikan dan pendidikan adalah kehidupan. Lihat: Reeport C. Lodge, Philosophy of Education, (New York; Horer & Brothers, 1974), h. 23.
[6] Djunaedatul, Filsafat Pendidikan, h. 6-8.
[7] Djunaedatul, Filsafat Pendidikan, h. 15-19.

Sumber Artikel:
Poskan Komentar

Tulisan Paling Dicari